Rabu, 23 April 2014

TANAH LIAT



“Oke anak-anak sekarang Ibu ingin kalian membentuk kerajianan dari tanah liat yang kalian bawa, temanya, membuat orang  yang ingin kalian jumpai, dan nanti  jelaskan alsannya, kalian faham semua?”
“faham bu…” jawabku serta anak-anak yang lain. Faham dalam kebingunagan maksudku, aku bingung apa yang akan ku buat.
Tanganku mencoba membentuk apa yang sedang aku pikirkan, ya pikiranku menjuru kepada sosok wanita yang lama tak pulang, bahkan mungkin takan pernah pulang.
Tanah liat yang dihadapanku berubah wujud menjadi wajah Ibu, aku benci kepadanya, maka aku hancurkan kembali bentuk itu, aku tak membuat apa-apa aku hanya meremas-remasnya. Aku tak peduli apa kata bu guru nanti.
Waktu yang diberikan telah habis, aku tinggal diam tanpa kata.
“Sandi, apa yang kamu buat, dan jelaskan apa alsannya” Bu Guru menjuk Sandi teman diseberang bangku tempatku duduk.
“aku membuat patung yang mirip dengan presiden, soalnya aku ingin bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia” huh dia sangat semangat sekali, tepuk tangan riuh diruangan ini, buatku mereka seperti menyoraki kepadaku, menyoraki kedaan dan luka yang berada mengalir disetiap urat.
Semua menyenangi mata pelajaran hari ini, dan sepertinya hanya aku yang enggan. Sekarang Rani yang menggebu-gebu senang, karena diapun ditunjuk Bu guru, dia ingin bertemu dengan artis, ah mereka menginginkan bertemu dengan orang-oarang terkenal.
Mereka tidak menginginkan bertemu dengan sanak sodara, Ayah atau Ibu mereka, ya buat apa, toh setiap hari mereka bersama. Tidak seperti aku dan Naya.
Norma, bagaimana denganmu apa yang kamu buat?” ah Bu guru mengagetkan dari lamunanku.
“aku tak buat apa-apa, karena tak ada seorangpun yang ingin aku temui”
Aku tak mau tahu bagaimana tanggapan teman-teman dan Bu guru, tapi itulah faktanya. Aku tak ingin berdusta.
          Dijalan pulang aku melihat anak-anak yang seumuran Naya kerkerumun disebuah warung, aku penasaran, dan aku mendekati. Ternyata mereka mengerubuni eskrim, aku jadi teringat Naya yang merengek minta dibelikan eskrim, akupun segera merogok saku baju, dan aku hanya berhembuskan napas berat dan panas, uangnya tidak cukup untuk eskrim.
          Tapi pikirku tak apa, yang penting aku pulang tanpa tangan kosong, uangku hanya cukup untuk membeli roti kecil. Akupun segera bergegas pulang khawatir Naya menungguku terlalu lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar