“Oke
anak-anak sekarang Ibu ingin kalian membentuk kerajianan dari tanah liat yang
kalian bawa, temanya, membuat orang yang
ingin kalian jumpai, dan nanti jelaskan
alsannya, kalian faham semua?”
“faham
bu…” jawabku
serta anak-anak yang lain. Faham dalam kebingunagan maksudku, aku bingung apa
yang akan ku buat.
Tanganku mencoba membentuk apa yang
sedang aku pikirkan, ya pikiranku menjuru kepada sosok wanita yang lama tak
pulang, bahkan mungkin takan pernah pulang.
Tanah liat yang dihadapanku berubah
wujud menjadi wajah Ibu, aku benci kepadanya, maka aku hancurkan kembali bentuk
itu, aku tak membuat apa-apa aku hanya meremas-remasnya. Aku tak peduli apa
kata bu guru nanti.
Waktu yang diberikan telah habis, aku
tinggal diam tanpa kata.
“Sandi,
apa yang kamu buat, dan jelaskan apa alsannya” Bu Guru menjuk Sandi teman diseberang
bangku tempatku duduk.
“aku
membuat patung yang mirip dengan presiden, soalnya aku ingin bertemu dengan
orang nomor satu di Indonesia”
huh dia sangat semangat sekali, tepuk tangan riuh diruangan ini, buatku mereka
seperti menyoraki kepadaku, menyoraki kedaan dan luka yang berada mengalir
disetiap urat.
Semua menyenangi mata pelajaran hari
ini, dan sepertinya hanya aku yang enggan. Sekarang Rani yang menggebu-gebu
senang, karena diapun ditunjuk Bu guru, dia ingin bertemu dengan artis, ah
mereka menginginkan bertemu dengan orang-oarang terkenal.
Mereka tidak menginginkan bertemu
dengan sanak sodara, Ayah atau Ibu mereka, ya buat apa, toh setiap hari mereka
bersama. Tidak seperti aku dan Naya.
“Norma,
bagaimana denganmu apa yang kamu buat?” ah Bu guru mengagetkan dari
lamunanku.
“aku
tak buat apa-apa, karena tak ada seorangpun yang ingin aku temui”
Aku tak mau tahu bagaimana tanggapan
teman-teman dan Bu guru, tapi itulah faktanya. Aku tak ingin berdusta.
Dijalan
pulang aku melihat anak-anak yang seumuran Naya kerkerumun disebuah warung, aku
penasaran, dan aku mendekati. Ternyata mereka mengerubuni eskrim, aku jadi
teringat Naya yang merengek minta dibelikan eskrim, akupun segera merogok saku
baju, dan aku hanya berhembuskan napas berat dan panas, uangnya tidak cukup
untuk eskrim.
Tapi
pikirku tak apa, yang penting aku pulang tanpa tangan kosong, uangku hanya
cukup untuk membeli roti kecil. Akupun segera bergegas pulang khawatir Naya
menungguku terlalu lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar