Satu tahun sudah aku berada dirumah
ini, yang hanya dihuni oleh dua anak kecil tanpa Ayah dan Ibunya. Pagi ini aku
sudah berada diluar sekadar jalan-jalan dipekarangan yang tidak begitu luas.
Tiba-tiba dari arah pintu Naya munncul.
“syuuuuuuuutttttttttt!!!!!!!!!!!” tangannya menutupi mulut dan menunjuk
kearahku, dia memberi isyarat
agar aku tak mengeong.
“Nayyyyyyyaaaa
!!!!!!!!!!” suara
Norma dari dalam menahan langkah Naya dari ambang pintu. Sosok laki-laki itupun
muncul dari balik pintu tangannya membawa selimbut.
“kau
ngompol lagi ya Nay????”
sambil dia menyodorkan selimbut kehadapan Naya.
“tidakkk
bukan aku Kak yang ngompol, tapi dia” telunjuknya mengarah tepat dimukaku,
ah sialan aku menjadi sasaran empuk anak kecil ini, kecil tapi cerdik.
“ah,
masa pussy ngompol?”
nada Norma tak percaya.
Aku tak ingin dijadikan tersangka oleh Naya,
akupun mencium bau aneh dari tas gendong yang dibawa Naya, aku mengeong-ngeong.
“ha…ha…ini
ada celana dalammu Nay, jadi mana
mungkin pussy memakai celana dalam, kau ini ngaco” Norma mengeluarkan celana dalam Naya, seperti
puas karena dugaannya benar.
“tidak,
pokonya bukan aku Kak yang ngompol!!!”
Naya mebalikan tubuh membelakangi Norma dengan wajah merah karena malu,
marah juga karena Norma mengetahui aksinya.
“yakin
bukan kamu yang ngompol??”
melangkah mendekaki adiknya.
“ha..ha…ini
ada bukti lagi”
dengan sigap Norma membuka rok yang dikenakan Naya, ternyata benar, Naya tidak
mengengakan celana dalam, karena celana yang dikenakannya basah terkena ompol Naya.
“huah,,,hiks,,,hiks,,,hiks,,,
aku benci Kakak, kau keterlaluan, dasaar ikan cumi jelek” Naya benar-benar menagis, aku hanya
tersenyum melilaht tingkah laku anak-anak ini, Naya yang imut, cantik, meski
usianya baru lima tahun tapi dia tegar. Dan Norma sosok Kakak yang bertanggung
jawab aku menjadi betah berada ditengah-tengah mereka, aku tak ada perasaan
niat sedikitpun untuk pergi meninggalkan mereka. Terlanjur sayang.
Tiba-tiba Bibi Maria datang membawa sesuau
dalam sekantong keresek hitam.
“ada
apa ini Norma? Naya ngompol lagi dikasur?” rupanya Bibi Maria sudah mengetahui
kebiasan Naya. Naya lari kedalam rumah menuju kamarnya. Norma hanya menggangguk
desertai tawanya yang tak henti.
Bibi Maria masuk kedalam dibuntuti Norma
dan aku, Norma membelok kekamar Naya, pintupun dibukanya.
“heh
anak yang suka ngompol, kata Bibi makan bareng cepat!” ajak Norma.
“apa
sih, aku benci kakak, dasar jelek kau,
cumi-cumi jelek!”
balas Naya, matanya tak sedikitpun melirik kerah Norma, Naya sibuk mencatat di
kertas yang ditempel ditembok.
Entah apa yang ditulis Naya, sepertinya
dia akan meperhitungakan perbuatan kakaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar