Rabu, 23 April 2014

SETANGKUP MAAF



Si kunyuk itu rupanya masih berani meneleponku, dasar keparat! Apa maunya, setelah menghancurkan perasaanku bajingan itu ah, aku ingin sekali memakinya, aku ingin mencakar mukanya”
 “siapa Ra?”
 “siapalagi Wi anak syetan itulah”
 “maksudmu Romi, kamu jangan sembarangan ngomong Ra”
 “si anak setan itu harusnya aku cincang wi bukannya kamu bela”
 “aku tidak membelanya, kamu harus bijak Ra, wlaubagaimanapun juga dia pernah berbuat baik kepadamu”
“aku tau itu, tapi perlakuan dia selama aku kenal dengannya, aku seperti bukan wanita, aku merasa tidak dihargai”
“ah sudah gini aja deh sekarang, kamu lupakan dia, klo ada zmz dari dia km jangan blz, tlp jangan diangkat, atau kamu ganti no”
“aku sudah lakukan itu”
“lantas kenapa??? Aku curiga kamu punya perasaan sama Romi”
“aku punya perasaan sama si kunyuk itu??? Apa kata yang lain, mungkin aku kan dianggap gila Wi”
“tidak Ra, kamu jangan keras begitu, coba kamu lunakan hatimu itu, cara bicara dan bersikapmu itu diperhalus”
“ah sudah wi jangan kau bahas bajingan itu”
“Ra, maaf,,matamu Ra, kamu nagis??? Kamu kangen ya sama Dava???”
“Wi,, hiks,,hiks,, kenapa seperti ini jadinya, kenapa sekarang aku menjadi bimbang”
“apa kamu yakin sama Dava?”
“kenapa kamu bertanya begitu? Aku yakin dia yang terbaik,,,”
 “tapi matamu tak dapat berdusta, Dava hanya pelarian hatimu, kau memilihnya hanya sebagai sandaran ketika kau hancur, tapi ternyata kaupun hancur karena dirimu juga”
“wi tolong kuatkan aku, bahwa pilihanku memang benar, dan tidak salah, aku tau Dava terlalu diam untuk orang seperti aku, tapi setidaknya dia lebih baik dari bajingan itu hiks,,hiks..”
“sudahlah lupakan saja Romi itu, dan Dava, dia memang baik Ra, tapi,,,”
“tapi kenapa Wi?? Kau jangan membuatku bingung!!”
“tapi dia yakin lebih baik dari Romi he,,he,,, senyum dong Dara Manis,,”
“kau ini Wi paling bisa membuatku tersenyum”
“ya udah mendingan kita makan yuk, kamu belum makan kan..”

BERSAMBUNG....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar