Rabu, 23 April 2014

MAAF, DAN TERIMAKASIH BIBI..



Hari ini jatah uang sudah habis, aku harus segera pergi kerumah Bibi Maria. Ya aku akan pergi, aku tak ingin mengajak Naya, biarkanlah dia bermain dirumah bersama Pussy saja.
Tak lama aku sudah sampai dirumah Bibi maria, aku disuruhnya makan terlebih dahulu. Aku juga melihat paman ada dirumah, ah tak biasanya.
Aku tak menolak makanan Bibi yang disuguhkan, aku segera melahapnya.
“Norma, bibimu dan aku akan pindah rumah” suara itu paman, inikah alasan paman ada dirumah saat ini.
Aku menoleh kearah paman, selera makanku tiba-tiba hilang, dunia terasa tak bupatar, diam!
“kami tak ada pilihan lain” suara Bibi Maria terdengar berat.
“perusahaan memindahkannya, itu bebarti akupun harus ikut pindah” Ah aku tak ingin mendengarkan lanjut pembicaraan ini, aku ingin segera mengambil langkah pergi, aku tak mau semakin terluka, setelah ibu yang meninggalkan aku dan Naya, kini Bibi yang sudah aku anggap sebgai ibupun akan pergi.
“dan kami tidak bisa mengusahakan membawa kalian dengan kami” perkataan bibi semakin mengiris hatiku, sakit lebih dari sekedar jatuh, ini benar-benar sakit.
“apa yang bisa kami lakukan?” apa maksud bibi dia malah melontarkan pertanyaan kepdakau.
“ibumu tak ada kabar” sekarang bibi  mengingatkaknku kepada wanita yang ku benci.
“aku tak tahu kenapa dia tidak pernah menelpon” wajah bibi sekarang tak memandangku, ia memilih membuang muka kearah lain.
“tidakkah kau tahu?” sekarang paman yang bersuara.
“suaminya meninggal, dan dia meninggalkan anak-anaknya” dengan suara kebencian, ya paman dengan watak yang keras, juga paman tak begitiu suka kepadaku juga dengan Naya, makannya kami tak tinggal satu atap dengan mereka.
“perhatiakan! Apa yang kau katakan!” bibi membelaku, sepertinya dia memang tak ingin menyinggung perasaanku.
Sedangkan aku hanya tetap diam membisu, aku tak ingin berkata apapun, toh apa yang dikatakan paman semuanya benar.
“itu kenyatann!” kini paman tak mau kalah, dia merasa benar apa yang duicapkannya, dan tak usah diperhatikan apa yang dicapkannya, karena fakta.
“ini sudah tiga tahun, sudah jelas bukan!” paman semakin panas.
Aku tak tahan, aku bangkit dari tempat duduk dan meraih tasku, aku akan segera pergi itu yang aku inginkan, dan yang akan lakukan.
“Norma, makanlah lagi” pinta bibi, dia ingin aku menghabiskan makananku. Tapi aku tak selera lagi.
“aku harus pergi, Naya menungguku” itu yang kuucapkan, aku tak ingin banyak kata-kata dengan mereka.
“kedua orang tuamu pergi” kenapa paman masih berkata itu, toh aku sudah tahu tanpa paman beritahu juga. Aku dongkol.
“pikirkan apa yang terbaik untuk Naya!” astaga, apa dia tidak berpikir aku masih terbilang anak-anak dan aku juga harus memikirkan bagaimana nasib Naya. Paman benar aku sebagai kakak harus bertanggung jawab atas kehidupan adikku Naya.
“ibumu tak akan kembali” paman semakin meperjelas, bahwa aku harus semakin benar-benar memikirkan Naya.
Aku tak menoleh sediktpun kerah mereka, aku bergegas menyeret kakiku untyuk cepat pergi.
“pergi kerumah yatim piyatu” langkahku tertahan mendengar paman mengatakan demikian, aku ingin menampar laki-laki ini, aku ingin menghentikan nyawa hidupnya, tapi apalah aku, aku hanya anak laki-laki yang masih belum dewasa.
“tunggu ibumu disana” wajahku hanya menoleh, tanganku mengepal, gigiku gemeretak menahan marah.
“kami bukan yatim piyatu!”
“Ibu akan kembali untuk kami!” keberanianku muncul untuk membela Ibu, meskipun aku membencinya, tapi sebenarnya aku menyayanginya. Dan akupun benar-benar meninggalkan beranda rumah Bibi Maria.
“anak itu! Beraninya membantah!” paman meneriakiku, aku tak menggubrisnya, aku tak ingin semakin sakit hati.
“Norma,,,Norma,,,Norma,,……….” Suara Bibi mencoba memanggilku, aku tetap saja melajukan langkah, sekilas aku melihat Bibi lari mengejarku. Aku berhasil ditahan Bibi, aku juga terlalu tega dia mengejarku terlalu jauh.
“Bibi minta maaf atas semuanya” dengan nada bersalah Bibi Maria memohon maaf kepadaku, aku tahu dia sangat baik kepadaku juga kepada Naya, matanya, aku melihat dia berkaca-kac,a seperti tak bisa menahan mengluarkan air dibalik mata indahnya.
“tidak apa-apa. Kita memang sendirian di dunia ini”  aku mencoba menghibur diri juga berharap Bibi tidak terlalu menyalahkan diriinya.
jangan katakana itu, Bibi akan kirim uang setiap bulannya, ya” terbalik, sekarang Bibi yang mencoba menghiburku, bahwa walaupun jauh jarak memisahkan aku dan Bibi, tapi dia masih peduli akan mengirimkan uang untukku dan Naya.
“aku tidak tahu kalau Ibumu masih tinggal disini, ini alamat Ibumu” Bibi mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku jaketnya, rupanya Bibi sudah tahu sejak dari awal, kenapa dia tak memberitahuku.
Walau bagaimanapun juga aku harus positif thingking kepadanya, mungkin saja Bibi tidak ingin terlalu menjadikan Ibu sebagai pikiran untukku.
Air mata itu jatuh membasahi wajah paruh baya didepanku, mataku juga rupanya tak bisa menhan, air mata Bibi seperti bermuatan magnet yang menyedot air mata yang tersimpan jauh didalam hatiku…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar