Hari ini jatah uang sudah habis, aku
harus segera pergi kerumah Bibi Maria. Ya aku akan pergi, aku tak ingin
mengajak Naya, biarkanlah dia bermain dirumah bersama Pussy saja.
Tak lama aku sudah sampai dirumah Bibi
maria, aku disuruhnya makan terlebih dahulu. Aku juga melihat paman ada
dirumah, ah tak biasanya.
Aku tak menolak makanan Bibi yang disuguhkan, aku segera melahapnya.
“Norma,
bibimu dan aku akan pindah rumah”
suara itu paman, inikah alasan paman ada dirumah saat ini.
Aku menoleh kearah paman, selera
makanku tiba-tiba hilang, dunia terasa tak bupatar, diam!
“kami
tak ada pilihan lain”
suara Bibi Maria terdengar berat.
“perusahaan
memindahkannya, itu bebarti akupun harus ikut pindah” Ah aku tak ingin mendengarkan lanjut
pembicaraan ini, aku ingin segera mengambil langkah pergi, aku tak mau semakin
terluka, setelah ibu yang meninggalkan aku dan Naya, kini Bibi yang sudah aku
anggap sebgai ibupun akan pergi.
“dan
kami tidak bisa mengusahakan membawa kalian dengan kami” perkataan bibi semakin mengiris
hatiku, sakit lebih dari sekedar
jatuh, ini benar-benar sakit.
“apa
yang bisa kami lakukan?” apa
maksud bibi dia malah melontarkan pertanyaan kepdakau.
“ibumu
tak ada kabar”
sekarang bibi mengingatkaknku kepada
wanita yang ku benci.
“aku
tak tahu kenapa dia tidak pernah menelpon” wajah bibi sekarang tak memandangku,
ia memilih membuang muka kearah lain.
“tidakkah
kau tahu?” sekarang
paman yang bersuara.
“suaminya
meninggal, dan dia meninggalkan anak-anaknya” dengan suara kebencian, ya paman
dengan watak yang keras, juga paman tak begitiu suka kepadaku juga dengan Naya,
makannya kami tak tinggal satu atap dengan mereka.
“perhatiakan!
Apa yang kau katakan!”
bibi membelaku, sepertinya dia memang tak ingin menyinggung perasaanku.
Sedangkan aku hanya tetap diam membisu,
aku tak ingin berkata apapun, toh apa yang dikatakan paman semuanya benar.
“itu
kenyatann!” kini
paman tak mau kalah, dia merasa benar apa yang duicapkannya, dan tak usah diperhatikan
apa yang dicapkannya, karena fakta.
“ini
sudah tiga tahun, sudah jelas bukan!” paman semakin panas.
Aku tak tahan, aku bangkit dari tempat
duduk dan meraih tasku, aku akan segera pergi itu yang aku inginkan, dan yang
akan lakukan.
“Norma,
makanlah lagi” pinta
bibi, dia ingin aku menghabiskan makananku. Tapi aku tak selera lagi.
“aku
harus pergi, Naya menungguku”
itu yang kuucapkan, aku tak ingin banyak kata-kata dengan mereka.
“kedua
orang tuamu pergi”
kenapa paman masih berkata itu, toh aku sudah tahu tanpa paman beritahu juga.
Aku dongkol.
“pikirkan
apa yang terbaik untuk Naya!”
astaga, apa dia tidak berpikir aku masih terbilang anak-anak dan aku juga harus
memikirkan bagaimana nasib Naya. Paman benar aku sebagai kakak harus
bertanggung jawab atas kehidupan adikku Naya.
“ibumu
tak akan kembali”
paman semakin meperjelas, bahwa aku harus semakin benar-benar memikirkan Naya.
Aku tak menoleh sediktpun kerah mereka,
aku bergegas menyeret kakiku untyuk cepat pergi.
“pergi
kerumah yatim piyatu”
langkahku tertahan mendengar paman mengatakan
demikian, aku ingin menampar laki-laki ini, aku ingin menghentikan nyawa hidupnya, tapi apalah aku,
aku hanya anak laki-laki yang masih belum dewasa.
“tunggu
ibumu disana”
wajahku hanya menoleh, tanganku mengepal, gigiku gemeretak menahan marah.
“kami
bukan yatim piyatu!”
“Ibu
akan kembali untuk kami!”
keberanianku muncul untuk membela Ibu, meskipun aku membencinya, tapi
sebenarnya aku menyayanginya. Dan akupun benar-benar meninggalkan beranda rumah
Bibi Maria.
“anak
itu! Beraninya membantah!”
paman meneriakiku,
aku tak menggubrisnya, aku tak ingin semakin sakit hati.
“Norma,,,Norma,,,Norma,,……….” Suara Bibi mencoba memanggilku, aku
tetap saja melajukan langkah, sekilas aku melihat Bibi lari mengejarku. Aku
berhasil ditahan Bibi, aku juga terlalu tega dia mengejarku terlalu jauh.
“Bibi
minta maaf atas semuanya”
dengan nada bersalah Bibi Maria memohon maaf kepadaku, aku tahu dia sangat baik
kepadaku juga kepada Naya, matanya, aku melihat dia berkaca-kac,a seperti tak
bisa menahan mengluarkan air dibalik mata indahnya.
“tidak
apa-apa. Kita memang sendirian di dunia ini”
aku mencoba menghibur diri juga berharap Bibi tidak terlalu menyalahkan
diriinya.
“jangan
katakana itu, Bibi akan kirim uang
setiap bulannya, ya” terbalik, sekarang Bibi yang mencoba menghiburku,
bahwa walaupun jauh jarak memisahkan aku dan Bibi, tapi dia masih peduli akan
mengirimkan uang untukku dan Naya.
“aku
tidak tahu kalau Ibumu masih tinggal disini, ini alamat Ibumu” Bibi mengeluarkan selembar kertas dari
dalam saku jaketnya, rupanya Bibi sudah tahu sejak dari awal, kenapa dia tak
memberitahuku.
Walau bagaimanapun juga aku harus
positif thingking kepadanya, mungkin saja Bibi tidak ingin terlalu menjadikan
Ibu sebagai pikiran untukku.
Air mata itu jatuh membasahi wajah
paruh baya didepanku, mataku juga rupanya tak bisa menhan, air mata Bibi
seperti bermuatan magnet yang menyedot air mata yang tersimpan jauh didalam
hatiku…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar