“kak,
apa kita anak yang malang?”
astaga, Naya berkata demikian, mengatakan hal itu, siapa yang berani berkata
itu kepada Naya, apa orang itu tidak berpikir dia gadis kecil.
“kak…!!” aku terdiam memilih kata-kata yang
tepat untuk menjawabnya.
“kata
siapa Nay?” aku
harus tau dulu yang mengataknnya.
“Nenek
yang diseberang rumah kita”
“tidak
Nay, kita tidak malang, dia yang malang” jawabku.
“lho
kenapa Nenek itu Kak?”
“iya
karena dia hidupnya sendirian, sedangkan kita bertiga, ada Naya, Kakak, dan Pussy” semoga jawabku lebih meyakinkan Naya.
“iya
kakak benar, kita bertiga”
betapa bahagianya aku melihat Naya tetap tersenyum.
“kakak,
keningmu kenapa terluka?”
aduh Naya tahu juga aku terluka, gadis kecil ini sangat teliti, ah ini tidak
terlalu serius.
“tidak
apa-apa, Kakak hanya terjatuh”
memang itu benar aku terjatuh tadi dibelakang.
“sini
kak biar Naya obtain, Nayakan calon dokter” aku membiarkan dia mengobatiku.
“aw..perih
Nay” aku
meringis.
“ya
tak a pa Kak, ini pake saus” jawabnya.
“hah!!
Yang benar saja” aku terperanga bagaimana dia punya ide dengan saus, ah
pelajaran macam apa itu yang ada juga pake obat merah.
“ya kak, karena obat merah tidak ada jadi Naya
pake saus” denagn
santai dia mengobatiku, dia berpikir apa yang dilakukannya itu benar. Huh dasar
anak kecil.
“o
iya Nay ayo kita makan, nanti makannya keburu dingin” ajakku.
“iya Kak” dengan lahap Naya menyantap masaknku, yang
menurutku entah enak atau tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar