Senin, 15 April 2013

PERNIKAHAN PURWADI



Lima tahun sudah berlalu pernikahan kedua Adi, sepertinya keluarga kecil itu bahagia dan tidak ada masalah apapun, itulah sepengetahuan orang-orang. Melihat anak istri Adi pada sehat dan badannya berisi. Tapi kenyataanya mungkin tidak seperti itu.
            Semenjak menikah dengan Rosela, istri keduanya, Adi membuka usaha warung kecil, dengan waktu sudah lumayan lama, tapi usaha kecilnya tidak berkembang dengan baik, jadi Adi mencari alternative lain, Adi menjadi buruh disebuah pabrik, itu sudah mendingan untuk menutupi biaya hidup keluarganya, terlebih anaknya sekarang sudah mulai sekolah TK. Adi harus semakin giat mengumpulakn uang untuk masa depan anaknya.
            Rupanya uang hasil jeripayahnya itu masih terasa kurang bagi istrinya, untuk membayar uang sewa kontarakan rumah, biaya makan sehari-hari, susu Deva, ditambah kebiasaan belanja Rosela yang berlebihan dan lain-lainnya. Akhirnya sang istri meminta untuk tinggal sementara waktu dirumah ibunya, Adi mengizinkan karena Adi tak pernah menolak apa yang dipinta sang istri, Adi selalu menurutinya. Begitu juga alasan kenapa uang hasil kerjanya hampir tak pernah cukup, karena istri Adi kurang bisa mengatur keuangan, sementara Adi tidak bisa berbuat banyak mencegah istri.
            Perusahaan tempat Adi bekerja sedang heboh PHK, rasa takut menghantui Adi, mimpi burukpun menjadi kenyataan, Adi termasuk salah satu pekerja yang diPHK, kini hari-harinya menjadi tak karuan, Adi sudah mulai mencari informasi pekerjaan lain. Tapi tentunya itu tidak mudah.
            Pagi dirumah mertua yang sama sekali Adi tak harapkan, wajahnya  menatap wajan penggorengan, juga piring-piring yang masih berantakan dan kotor, ini masih pukul lima pagi, Adi melihat Ayah mertuanya sudah asyek dengan BBnya diruang tamu, semnatara Ibu mertuanya, entahlah Adi tidak tahu, karena masih dikamarnya. Sementara sang istri tidur lagi bersama anaknya.
            Adi sekarang merasa betapa harga dirinya terluka, bukan karena tanpa alasan Adi pergi kedapur untuk mencuci piring, masak menyiapakan sarapan pagi, tapi karena semua itu sudah diperintahkan oleh Ayah dan Ibu mertua. Dan kenapa istrinya tidak membantu, itulah dari awal menikah istri dimanjakan oleh Ibunya, dan karena latar keluarga yang berbeda, menjadikan Adi medapatkan perlakuan yang kurang nyaman.
            Adi sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti itu, Adi tak mau buang-buang waktu, segeranya Adi lakukan satu persatu tugasnya. Sampai tak terasa mentari sudah mulai muncul dengan indahnya.
            Tapi tugas Adi belum selesai, Adi mencuci seluruh pakaian, sandal, sepatu, anak, istri, mertua, dan miliknya juga. Setelah dirasanya selesai, Adi minta izin kepada istri untuk menemui Ibu angkatnya yang beda kecamatan, dengan alasan Adi lama tak pulang, juga mencari informasi pekerjaan. Sang istri tidak keberatan. Adi tidak izin kepada mertua, karena memang tidak ada, sudah berangkat bekerja.
            Sepanjang perjalanan pikirannya maju mundur, maju memikirkan bagaimana kedepannya nanti, dan mundur mengingat pernikahan pertamanya dengan Iis, Adi masih ingat gadis itu lembut, rajin, dan lebih ramah, karena Iis tipe wanita pendiam.
            Tapi mertuanya yang ikut campur dengan keluarganya, sehingga sang istri lebih menurut sang Ibu, ketimbang Adi suaminya. Mendengar itu Ibu Adi yang di Madura meminta Adi pisah saja, begitupun dengan Ibu angkat Adi, mereka manyarankan Adi bercerai, dan setelah dirasa-rasa ternyata sang mertua kurang suka juga dengan Adi, karena Adi belum memiliki pekerjaan tetap.
            Cerai, itu jalan yang diambil Adi. Sampai takdir memperkenankan Adi menikah lagi dengan gadis yang lebih energik, lebih cantik. Sebelumnya keluarga sudah mewanti-wanti agar Adi harus benar-benar memilih istri, jadikan yang dulu-dulu menjadi pelajaran untuknya.
            Pernikahan yang keduanya kurang disukai oleh keluraganya, dengan alasan, jarang ada lelaki daerahnya menikah dengan daerah tetangga seberang kecamatannya. Katanya anak gadis sana banyak tingkahnya.
            Adi tak peduli, yang Adi rasakan hanyalah cintanya yang tulus  kepada Rosela, gadis hitam manis dan rambut panjang. Itu alasan yang Adi ungkapkan kepada keluarganya. Ibu angkatnya sempat geleng-geleng kepala waktu itu, “terserah kamu Adi Ibu sudah mewanti-wantimu. Jika memang Rosela pilihanmu terserah”, sekarang mulai terngiang-ngiang kata-kata Ibunya.
            Adi bingung apa yang hendak diperbuatnya, Adi mengakui bahwa dirinya tidak tegas, Adi merasa dirinya gagal menjadi kepala rumah tangga yang baik, imam yang baik. Pikirannya kembali maju, Adi ingin bicara, tapi Adi malu, mengingat dirinya adalah laki-laki, dan laki-laki itu jarang yang mau bercerita tentang permasalahan yang dihadapai kaum adam itu, buat laki-laki bercerita berarti sama saja harga diri sebagai laki-lakinya terluka.
            Tapi rasa kelelakiannya itu melunak, walau bagaimanapun juga dia harus cerita kepada ibunya, ini bukan untuk membuka aib keluarganya, dan membeberkan masalahnya, tapi untuk mencari solusi, juga mencrai masukan, dari ibu. Dan Adi yakin ibunya lebih faham dengan karakter wanita.
            Sesampainya dirumah, Adi langsung menyalami anggota keluarga yang kebetulan pada kumpul. Niatnya untuk cerita dia urungkan terlebih dahulu melihat situasi yang tidak memungkinkan.
            Beberapa saat kemudian, Adi melihat ibunya tengah duduk dikursi sendirian, segera Adi menghampirinya.
“Ibu…” katanya, ragu-ragu.
Ibunya menatap heran. “Kenapa Adi?? Oh iya Rosela, Deva mana kau tidak mengajaknya kemari?.”
“tidak Bu, Adi sengaja tidak mengajaknya, hmm,,, Ibu sebenarnya Adi ingin berbicara kepada Ibu” Adi sedikit sungkan.
“bicaralah Adi, sepertinya kau ada masalah” ibu mulai curiga, dan memang naluri seorang ibu kuat, meski Adi tidak terlahir dari rahimnya, tapi pengasuhan dari bayi membuat Ibu peka.
“ada masalah dengan istrimu ya?” tebak ibunya.
“iya bu..” ceritanya langsung mengalir dari bibir Adi.
“sudah ibu bilang dari dulu juga jangan menikah dengan orang sana, kamu ini ngeyel tak mau mendengar kata-kata ibu” ibu menghela nafas.
“kau ini laki-laki Adi” sedikit meninggi suaranya, kemudian menarik nafas lagi, ibu mencoba menormalkan nafas dan suaranya.
            Adi terdiam, kelu lidahnya, Adi tak dapat berbuat banyak untuk membela dirinya. Ibunya seperti membenarkan kata-kata pada dahulu kala.  Tapi ibu tidak setega itu kepada Adi, dicobanya diberikan masukan supaya Adi bisa tegas sebagai kepala keluarga, dan harus lebih berani lagi mendidik istri dan anaknya.
            Ibunya berpikir kedepan, dia tidak meninta Adi untuk menceraikan Rosela, apalagi Adi sudah memiliki anak. Panjang lebar ibu menjelaskan bagaimana wanita, dan apa saja yang harus Adi lakukan. Adi mendengarkannya dengan baik.
            Dengan sedikit lega, Adi pulang kerumah dengan membawa nasehat sang ibu juga oleh-oleh untuk Deva. Meski ini terlambat, tapi Adi optimis bisa merubahnya. Senyum dan semangat mengiringi perjalanan pulang.