“Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah
Engkau beri petunjuk kepada kami” (Ali’Imran:8)
Kemarin, oh bukan kemarin
melainkan beberapa hari yang lalu, tepatnya selasa,11 september 2012, aku pulang
kerumah karena satu hal, dua hal, tiga hal bahkan lebih, dan kebetulan aku
sedang tidak enak badan, ya itung-itung aku istirahat dirumah. Perjalanan yang
lumayan jauh juga dengan kondisi jalan tidak baik, membuat mobil yang aku
tunggangi, eh maksudnya tumpangi tidak
begitu cepat lajunya, sopir harus ekstra hati-hati mengendalikan mobil, jika
lengah sedikit saja, maka akan patal, jelas patalnya, bukan hanya body mobil
yang ancur, bisa-bisa bodyku juga ikut ancur, naudzhubillah deh…
Panas menyergapku di jok paling
belakang, juga badan yang bergoyang-goyang karena mobil, aku ga bikin ulah
dimobil goyang dangdutan lho, gonjacangan demi goncangan mobil membuatku harus
terus menerus memperbaiki posisi duduk, jangan ampe ada yang nyangka aku
ambeyen, ntar malah iklan hi..hi.. “ambeven” so, akupun pegangan yang erat ke besi sisi
kaca mobil.
Mobil akan segera sampai ditempat
yang aku tuju, aku segera menelphone sepupuku untuk menjemput di pangkalan
ojek, bukannya tak ada uang untuk membayar ojeg, atau karena aku tak mampu
berjalan kaki, hanya saja rasa cape yang cepat-cepat ingin sampai kerumah, dan
merebahkan tubuh, juga ingin menghindari rong-rongan tukang ojeg yang haus
rebutan penumpang. Hausmah minum atuhnya.
Rupanya teleponku bisa ngomong,
oh bukan itu sepupuku yang ngomong he,,he,,, bilangnya ga bisa motornya
mengalamai masalah, bannya kempes,aku kesel “mun mah kompa, boh tiup” gerutuku dalam hati, ya iyalah dalam hati,
mana berani aku bilang begitu kedia, bisa bisa aku terkena bisa olehnya
he,,he,, dan aku malah disuruh naik ojeg, okelah, aku dapat memaklumi kondisi ini,
akupun diantar ojeg sampai depan rumah,baik ya tukang ojeg, karena aku baik
hati dan juga tukang ojeg baik hati aku
kasih uang tuh tukang ojeg he,,he,,, itu namaya bukan baik, tapi emang
kewajiban membayar tukang jasa ojeg parah!!!
Sebelum kerumah, aku mampir dulu
kerumah sepeupuku, sengaja aja, ga ada maksud apa-apa ko, beneran deh.
“Assalamualaikum” seperti kebanyakan orang aku mengucapkan salam
diambang pintu, bukan ngikutin orang sebenarnya, tapi karena ada dasarnya juga,
“latadhul kobla salam” begitulah
kira-kira.
“Waalaikumsalam” jawab orang-orang
di lwanag panto maksudnya di
ambang pintu. Jawab salam jangan-jangan ngikutin orang juga?? Ah mudah-mudahan
ga asal ngikutin tapi berlandaskan hadist yang mewajibkan menjawab salam.
Setelah basa-basi menanyakan
prihal kepulanganku yang baru dua minggu di pondok sudah pulang lagi aku segera
bergegas kerumah, tapi karena telingaku belum tuli dan mudah-mudah tidak tuli
dan juga mudah-mudahan bukan bermaksud menguping, dan semoga saja bukan
menguping.
“wah eta beneran baruk ti kelas lima esde” yang artinya, wah itu
beneran dari kelas lima SD.
Jidatku mulai berkerut, eit bukan
karena menua, tapi disengaja biar mimik wajahnya dapet, ha,,,ha,,, belaga kaya syuting
sinetron picisan. Langkahku tertahan, bukan karena ada yang megangin ko.
Tertahan karena mendengar salah satu nama yang mungkin aku pernah mengenalnya. Sonia.
Lantas aku taku terlibat bigos
yang ga jelas juntrungannya, aku benar-benar melarikan diri kerumah. Dan aku
kaget setenagh hidup mendapati si evi tergeletak diatas kasur tanpa reaksi, aku
tidak segera lari dan berteriak eviiiiiiiiiii…… tidak,,tidak,,, aku menebak
pasti si evi pingsan??? Bukan tapi tidur apa bobo ya? Ah sama aja, intinya si
evi lagi terpejam matanya, dan meringkuk tubuhnya diatas kasur.
Akupun serta merta
membangunkannya, mengguncangkan tubuhnya, sebenarnya sih mau nanyain umy,
karena si evi tetap membisu aku biarkan saja, end aku simpulkan umy tidak ada, karena aku melacak kedapur tidak
ada, di pojok kamar juga tidak ada, diatas kursi juga tidak ada yang duduk,
didalam lemari, ah mana mungkin umy didalam lemari kan ga lagi petak umpet.
Intinya lagi umy sudah berangkat pergi ke banjar, nama daerah yang akan dituju
umy menemui abi.
Tepat pukul 13:30 perutku
meraskan sesuatu yaitu “lapar” kamu tau
apa itu lapar, itu kalau pemimpin upacara lapar ke Pembina upacara, hah bukannn?!
Oh lapor. Yaitulah lapar adalah: kondisi perut dalam kedaan ingin diisi. Sejurus
kemudian aku lari kedapur, sebenarnya ga pake jurus lari-lari kedapur, biar
kesannya gimanaaaaa githcuu he,,he,, ya aku kedapur kemudian membuka penutup
makanan diaatas meja makan, dan yang kutemui adalah idam nasi yang aku lagi
males jika makan dengan lauk pauk itu, kemudian tanganku menarik pintu kulkas
mencari sesuatu yang dapat kumakan, yes
ada endog oge, maksudnya ada telur, dibikinlah
telur goreng buatan neneng zona, rasanya sedikit asin tapi ga apa-apa, kalau
kata umymah biar awet makannya, ha,,ha,,, tidak lupa segelas minuman dingin
rasa jeruk.
Masih merasa ada yang kurang aku
bawa sepiring nasi dan segelas minuman menghadap tv, subahanallah rupanya sedang ada info sekilas berita, kebalik ya, ga
apa-apalah itu berita tentang pemilihan gubernur DKI Jakarta. Aku jadi mesem
sendiri ga ada yang nemenin. Bismillahirahmanirahim,
Allahuma bariklana fiima rozaktana wakina adza bannar, secomot nasi mulai
melayang dan mendarat dimulutku yang sudah siap mengangap, sambil makan itu aku
berpikir, dan berandai-andai menjadi salah satu pejabat dikampung kayanya seru
deh, aku punya misi.
1.
Kampung
bebas asap rokok
2.
Jalan
dikampungku akan diperbaiki
3.
Musnahkan
permaksiatan di kampung
Insya allah ga akan ada yang dukung
heu,,heu,,. Ah aku ga mau terlalu pusing dengan politik, melekmah melek, tapi
diam sajalah.. lanjut dengan makananku yang sudah hampir habis. Acara makan
siang selesai, aku harus cepat mengembalikan piring dan gelas ke dapur, tapi mataku
sedikit jelalatan sama makanan, penasaran buka lagi kulkas, wuihh.. ada agar
coklat yang menggoda, ah sedikit saja aku memotongnya, sedikit ukuran zonamah
da benten. Benten itu nama propinsi, bukan itumah banten. Benten itu beda, ah
zonamah matak memusingkan.
***
Sonia,
itu nama yang pernah aku dengar pas waktu datang kerumah sepupuku lho ko balik
lagi kesitu??? Iya jangan komen, ada sesuatu yang harus diketahui oleh para
remaja remaji.
Apa…..??????????????!!!!
ouh tidak apa-apa itu si neng zona lagi ngetes apa suaranya masih bisa buat
teriak atau tidak he,,he,,,
Keesokan
harinya aku sakit, cie yang sakit, ya biasa batuk-batuk sama emflu, jadilah
zona dirawat dirumah, aku memilih dirumah Euceu Eneng, dan mojok di kamar
sendiri, biar ga banyak yang menggangu.
Saatnya
minum obat, tapi harus makan dulu, beringsutlah aku kedapur cari makan, didepan
tv sudah ada Euceuh Iron Man,
maksudnya Euceu mau nyetrika pakaian, suaminya, anaknya, juga punyanya sendiri.
Aku tidak jadi mengambil itu makan, malah duduk disebelah Euceu, ada makanan
ringan yang membuatku harus duduk disana.
Nah
mulailah aku keingetan Sonia,
“the, ari anu kamari naon Sonia??” the
yang kemarin apa Sonia.
“ouh eta Sonia Geuningan anak Raden Oha, Ibu
Eho,” ouh itu Sonia anaknya Pak Raden Oha dan Ibu Eho.
“kenapa
dengan Sonia? Denger-dengermah kemarin dari kelas lima esde?
“iya
kumpul kebo?” wah bagus dong, rajin ngumpulin kebomah, cepet kaya atuh. Pikirku
dalam tempurung kepala, tidak aku sampaikan ke Euceu, karena aku juga ngerti ko
kumpul kebo itu, apa?? Apa ya, ya itulah pokonya negative.
“ko
bisa the, kumaha caritana?” aduh semoga aku tidak sedang bergosip, tapi kalau
aku tidak cari tau nanti malah aku yang suudzhon.
“jadi
ceritanya, Sonia itu anak yang terpandang, orangtuanya punya orang kepercayaan,
yang selalu bisa diandalkan, mang patil namanya”
Mang
lele atuh heu,,heu,,,
“Si
Sonia sering ditidurin sama mang patil yang rumahnya berhadapan, prilaku
seperti itu terjadi dari mulai kelas lima esde, dan baru diketahui keluarga
beberapa minggu yang lalu”
“what??? Rumahnya berhadapan, ko bisa
ditiduran??? Aku ga tau orangnya yang mana, tapi rumahnya tau”
“ah
kamumah tara tau tatangga oge” gerutu Euceu, lantas dia bersedia bercerita
lagi.
“dulu
waktu Sonia SD sok di iming-iming duit, teruskan Soniateh kuliah di kedokteran
sekarangmah, itu bapaknya sampai menjual tanah, menjual harta kekyaaan demi
anaknya masuk kuliah kedokteran yang uangnya mencapai ratusan juta”
Mendengar
ratusan juta aku langsung mikir kalau aku punya uang sebanyak itu, aku mau buat
rumah, kalau engga buat kumpul-kumpul modal awal nikah...hi,,hi,,,
“pihak
kampus yang mengadakan tes mengetahui bahawa Sonia sudah tidak perawan, dan
langsung menghubungi keluarga Sonia, jadilah semuanya tau kebususkan mang
patil”
“kok
kebususkan the? Memangnya mang patil melakukan apa saja?” gaya introgasiku
mulai lebay.
“kan
mang patil the rentenir, trus eta si Soniateh didagang-dagangkeun, ceunahmah
udah sama beberapa laki-laki da, lumayan nambah devisa”
Ah
si Euceu tau devisa oge. Aku masih menjadi pendengar setia, sampai beritanya selesai
dibacakan.
“sekarang
Sonia di kurung dirumahnya dan tidak melanjutkan kuliah, ah kamumah tau itu
saja, tau Elang, anaknya Pak Gareng?”
“tau
kenapa lagi denganya?”
“itu
anak baru kelaur dari bui” bui itu penjara.
“abis
sepuluh juta, gara-gara merkosa anak gadis, sama Dion anak tetangga RT56
sampaing kita”
Wah
lumayan tuh duit sepuluh juta buat biaya-biaya kuliah, yah malah kepolisikeun.
Gumamku.
“
terus anak tirinya Pak Jeko juga hamil tanpa suami” teteh melanjutkan.
Astagfirullohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhaladzim… ada apa dengan
kampungku???? Aku tak habis pikir, ada apa ini?? aku bersyukur tidak tinggal
dikampung, dan aku bersyukur umy menjebloskanku ke penjara suci, juga umy
mengkuliahkanku, tak lain suapaya aku menjadi orang yang mengerti.
Aku
tak banyak kata lagi, dadaku terasa sesak, ternyata disekitarku banayak anak
muda yang seperti itu. Aku kalau pulang kerumah, hanya dirumah saja, tidak
kemana-mana.. aku terus beristighfar.
Aku
jadi ingat pesan umy, supaya berhati-hati menjaga diri. Ah aku akan selalu
mengingat pesan umy itu.
Firman
Allah swt. Semakin memperkuat.
“dan hendaklah kamu tetap
dirumahmu dan janganlah kamu berias dan bertingkah laku seperti orang-orang
jahiliyah yang dahulu” (al-Ahzab:33)
Setealahnya
dianggap selesai pembicaraan dan perbincangan dengan Euceu aku segera makan,
dan minum obat, secepat mungkin langsung masuk kamar dan istirahat kembali,
sebelum tidur aku benar-benar berdo’a memohon ampun kepada Allah, juga memohon
perlindungan.
Tadi
itu aku bukan maksud bergosip, menggunjing, tpi aku mengambil pembelajaran yang
berharga, bahwsannya hikmah yang dapat diambil adalah:
1.
Kelurga,
perdekatlah hubungan keluarga, jagalah dengan baik, ajarkan agama didalam
keluarga.
2.
Akibat
dari semua itu tidak terkecuali hanya akan menjadikan semuanya berantakan,
semua tercemar, nama baik diri sendiri dihadapan Allah, manusia, seluruh alam
membenci.
3.
Orang
tua kecewa, semua orang yang mengenal bahakan yang tidak mnegenalpun kecewa dan
merasa jijik.
4.
Bertemanlah
dengan orang-orang yang berilmu, berakhlak, dan beragama.
5.
Berhijablah,
hijab segalanya. Jagalah kehormatan.
Terakhir,
apa ya, aku jadi lupa mau nulis apa, ya itu aku merinding. Semua nama yang ada
aku samarkan, tau samar, itu tidak jelas, alias remeng-remeng kayanya, fiktif
atuh, ga tau juga fiktif, lah namanyanaya ga pada asli pokonamah. Sudahhlah
demikian dariku. Seoga bisa jadi peringatan!!!





