Kata orang-orang aku anak beruntung, tidak seperti kebanyakan orang,ah apakah benar apa yang di katakan mereka tentang aku?
Ini kisahku, dulu kata ibu aku selalu dimanja,apaun yang aku pinta selalu ada. Dari mulai jaln-jalan, membeli boneka, dan entah apalagi itu..
Tak pernah ada cela pada kehidupan masa kecilku.
Terus saja ku dengar penuturan ibu tentang hidupku dulu.
Tapi kenapa aku merasa hidup dalam keprihatinaan yang terus membeku.
Mungkin itu kisah sebelum aku mengerti sesuatu,
Aku mengingat keadaan yang ku alami semenjak usia lima tahun, kurang lebih begitu.
Dulu, saat aku berumur dua puluh emapt bulan, aku sudah tak tinggal bersama ayah dan ibu.
Katanya mereka berpisah, aku tak tahu dan tak ingin tahu. Apapun penyebabnya itu, Biarkanlah cerita itu mengalir seperti air ke ujung hulu...
Yang kurasa hidup ini selalu merana, tanpa hadirnya sosok ayah dan ibu.
Tinggal dari satu rumah kerumah yang lain dan terus begitu...
Pergi kesekolah dengan sepasang sandal jepit berwarna biru.
Saat itu hatiku tak pernah merasakan pilu
Meski kesekolah tanpa sepatu.
Baru saat ini, aku mersa hidupku yang penuh haru.
Tak penah ada kepingan uang logam sebagai uang saku
Hanya buku, pena dan tas lusuh bekas anak-anak tetangga yang selalu ada dipunggungku.
Jika disekolah aku ingin membeli makanan, hanya jari tangan yang dapat kuemut, terlihat seperti anak dungu.
Tapi tak jarang aku bisa merasakan jajanan dari teman sebangku,
Tentu semua itu tak diberikannya Cuma-Cuma , harus ada sesuatu,
Sesuatu yang membuat mereka lucu.
Terkadang aku disuruhnya kekantin, ataupun menyanyikan satu buah lagu.
Sebagai gantinya mereka memberiku dua buah cireng yang dibelinya dari mang cucu. Peristiwa itu aku akan mengingatnya selalu, dan selalu.
Kala malam menjeputku..
Aku ikut mengaji, disebuah mesjid milik seorang ustad, namanya ustad asep, katanya beliau juga pamanku,
Lantas menyimpan tanya dalam benakku?
Setelah belajar ngaji usai, aku menginap dirumah siapa saja, aku paling senang jika menginginap dirumah tetangga yang membutuhkanku.
Sekedar menemani, tapi dengan bayaran seratus rupiah saja permalam. Sebagai tanda terimakasihnya untukku.
Cita-citaku ingin tetap lanjut sekolah masih kuat, meski tanpa biaya dari ayah dan juga ibu.
Hari libur telah tiba, aku menyambutnya penuh bahagia, diseratai lagu rindu.
Orang-orang sekitarku, mereka menyuruhku mencari kayu.
Aku senang sekali, karena aku bisa mendapatkan lima ratus rupiah dari setiap kayu.
Betapa bahagianya aku mendapatkan hasil jerih payahku.
Musim ujian kembali datang, aku mulai bingung tak menentu.
Berpikir bagaimanna caranya mendapatkan uang untuk ikut ujian CAWU.
Pagi itu kurasakan dingin yang menusuk persendianku, hari masih cukup pagi, aku duduk menghapad hawa panasnya tungku.
Ternyata Allah menjawab keresahanku.
Tiba-tiba aku diberi uang seribu, kata ema itu dari pamanku.
Tapi aku masih bingung karena uang ujian nya sebesar tiga ribu,
Entah dari mana lagi aku harus mendapatkan sisanya, tak kusangka, di balik pintu uwa memanggilku.
Rupanya dia menyuruhku, membantu membersihkan teras rumah yang penuh dengan tanah, yang terbawa percikan hujan malam itu.
Tak perlu menunggu lama, sejumlah uangpun telah pindah ketanganku.
***
Beberapa tahun telah berlalu
Aku mendapat kabar bahwa ibu telah melahirkan, berarti itu tandanya aku memiliki adik baru.
Aku jadi teringat akan sesuatu....
Kata ibu, ayah tiriku baik, dan sayang sama aku.
Terbukti, aku disirami air panas disekujur tubuhku, katanya itu tanda kasih sayangnya padaku.
Sumpah!! aku takan lupa kejadian bersejarah itu, waktu dimana aku terlempar keluar rumah dengan luka menyertaiku.
Ditengah jalalan setapak, aku menagis penuh ketakutan, seperti orang takut akan terkaman harimau yang tengah siap memangsaku.
Setelah peristiwa berdarah itu, aku tak pernah menginjakan kaki ke gubuk reot yang pernah menyisakan lukisan pahit disekujur tubuhku.
Saat kutulis kisah ini, aku tengah berbaraing disebuah ruangan penuh dengan aroma bau..
Aroma kematian, isak tangis, nanah, darah semua berjubel diruangan haru.
Dan apakah kalian tahu, tak ada ayah atupun ibu disampingku.
Mereka terlalu sibuk dengan hidupnya yang baru.
Aku menjerit meringis kesakitan, yang hanya terdengar dalam hati yang terus membeku.
Karena aku tak tahu siapa yang pantas ku pangil dalam keadaan terpaku, hingga akhirnya gunung es dimataku meleleh, membanjiri setiap yang dibasahinya, lintasan airnya mengikuti jalur lekuk raut wajahku yang tengah kaku..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar