Aku tak suka dengan angka dua
Buatku itu adalah luka
Karena aku belum bisa menerima,bamhwa kalian telah mendua
Suatu peristiwa yang tak pernah kutahu, tapi kualami
Hidupku terbanting oleh dua hati yang tak bisa menyatu
Hingga membuat aku terjatuh kesudut waktu yang tak jelas
Suatu tempat yang sudah terpecah belah
Aku telah meyakini akan semua ini
Tidak akan terbangun kembali dengan utuh,
Bahkan sampai gunung tak mampu berdiri lagi
Hidupku pincang, karena tergilas waktu yang tak ku inginkan
Walau begitu, aku masih mampu tuk berjalan sampai dapat mengelilingi jagat raya.
Aku tak mau separuh hatiku dipenuhi rasa benci, walaupun sudah terisi.
Rasanya jika seisi dunia menyalakan lampu, yakinlah takan merubah pandanganku tentang jalan yang tertutup kabut. Buatku gelap gulita!
Bisa saja kalian bilang jalanan itu mampu tuk kujamahi.
Tapi aku, tak seperti itu, terlalu tebal...
Ya, bagaimanapun juga, aku akan tetap diseret waktu.
Dan sekarang bukan dua hati lagi yang harus kutebas, tapi lebih banyak.
Aku benci jika hidup bersama cinta mati suri!!
Tidur diberanda rumah tak bertiang, dan juga menghirup aroma kamboja, ditengah taman tak bernyawa.
Jangan salahkan aku, jika setiap jiwa yang kalian besarkan tak dapat kuterima.
Kalian anggap mahluk yang datang itu adalah manusia setengah malaikat, maka aku akan anggap itu adalah iblis.
Saat aku bersama ibu, ku panggil ayah tapi sosok lain yang menjelma di ambang pintu.
Sebaliknya saat aku bersama ayah, ku panggil ibu dan kudapati bukan ibu yang kukenal yang ada dalam depelukanmu.
Semua berjalan begitu cepat, ibu sudah memiliki pasukan baru, dengan panglima yang pastinya itu bukan ayah.
Begitupun ayah, dengan permaisurinya mampu membuat istana, diatas hati yang sekarat.
Lantas kuberlalu bersama sepasi nyawa yang masih menyatu.......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar