Rabu, 14 Maret 2012

BAYANGAN HATI, YANG MENGINGINKAN HIDUP



Senja itu, aku tengah bercakap bersama angin dan juga deburan ombak. Kuceritakan pada mereka, bahwa aku ingin pergi jauh membawa serpihan hati yang tengah koma, aku khawatir, jika mataku terus melihat wanita yang kupanggil ibu itu masih ada dihadapanku, maka bukan hati lagi yang berkata, tapi kepalan amarah yang mengamuk. “ tak apa, aku lebih senang jika kau memuntahkan lahar kebencian untuknya”  seloyor ombak, lantas brlalu ke tengah lautan. Bagaimana dengan kau angin, “kau rasakan aku memasuki  jiwamu yang rapuh, mengetuk dari jendela hati, bukan pintu dendam”  sama anginpun pergi meninggalkan hawanya yang menyejukan. Semua keputausan ada di tangnku, tinggal bagaimana kebikakan hati saja.

Tiba-tiba  aku merasakan getaran hati, rasa rindu yang menggebu. Seseorang di seberang sana, yaitu mantan kepala keluarga. Ah, apakah dia juga merasakan apa yang aku rasakan?? Tapi diakan sudah ada yang memiliki, kabar terakhir yang kudengar, dia sudah punya anggota baru. Berita itu menambah hati semakin pilu..

Akhirnya aku pulang kerumah  cinta, ruangan yang penuh dengan kehangatan, bau aroma keikhlasan tercium di setiap ruangan. Tapi mengapa semua itu tak mebuat aku nyaman berada disana??? Ada saja kekesalan yang datang menyapa.

Masih dengan malam yang setengah mati..sepasi bulan yang tadi kulihat, sudah tertutup awan mendung yang menggelayut diujung kejora mata ini. tak sempat ada jeda  tuk berkedip. Badai bandangpun tak mampu kutahan...hingga luluh lantahkan jiwa yang remuk. Lantas terbawa hanyut angin dingin yang menutup malam. Walaupun tadinya aku ingin mematung, berjemur diri dibawah rintikan sinar rembulan..menganyam cinta menjadi arca keikhlasan akan takdir Illahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar