Minggu, 18 Maret 2012

BUKAN TEMBOK CINA TAPI TEMBOK CINTA


Tiga wanita berkerudung yang satu tubuhnya tinggi, langsing bergamis juga mengenakan kerudng ungu tua, yang satunya lagi tubuhnya lebih pendek dan berbadan kecil berkerudung merah muda atau lebih enak menyebutnya pink, dan yang terakhir kelihatannya sudah lebih dewasa dari kedua wanita tadi dia memakai kerudung warna hitam. Semuanya mengenakan gamis.
Mereka melewatiku sembari menunjuk kerahku aku tidak faham apa yang orang-orang itu bicarakan. Kemudian mereka duduk membelakngiku.
Hitam: “ditempai ini kejadiannya”
Merah muda: “yang bener the”
            Si pink terdengar kaget seperti tidak percaya apa yang dikatkan si hitam itu.
Hitam: “iya disini mereka melakukannya, dan katanya dimuat disurat kabar heboh deh ceritanya, sempet dikeroyok masa juga lho..”
            Aku mulai meresapi arah pembicaraan ketiga wanita ini, lantas si Ungu menimpali.
Ungu: “iya lho aku juga tahu dari adikku yang kebetulan ada disini saat itu”
            Si pink yang dengan seksama mendengarkannya mendadak menggidik, si pink mulai penasaran lagi dengan pembicaraan ini.
Pink: “emang kejadiannya kapan the?”’
Hitam: “02 Januari 2012 pukul 21:00”
Pink: “waduh malam minggu the…”
Hitam: “iya , ah sudah-sudah jangan dibahas lagi, cukup ini dijadikan pelajarn untuk kita”
            Si hitam mengakhiri yang entah ini disebut gossip atau hanya sekedar bercerita untuk diambil hikmahnya, tapi menurutku ini baik. Tiga wanita ini mulai melanjutkan aktifitas yang sebelumnya mereka jadwalkan, aku yakin itu hanya intermezo.
            Aku masih tertegun, mereka ttadi itu mebicarakan prihal aku yang semenjak tadi pula mereka belakangi.
***
            Suara gesekan kaki manusia dengan lantai mulai ku dengar dengan jelas, juga suara mendesah, mulai mendekaktiku, ada suara yang manja, kemudian terdegar “aw” tidak terlalu keras, tapi lahan namun lagi-lagi seperti tengah medesah. Lampu disini kebetulan ada yang mati petugaspun belum sempat menggantinya, jadi akupun terlihat hitam, padahal aslinya aku cream, tapi mereka dihadapanku terlihat sangat jelas.
Wanita: “aduh aa jangan”
Pria: “lho kenapa? Aakan cinta ka neng”
            Tangan laki-laki itu mulai meraba yang tak pantas untuk aku lihat, aku yakin mereka adalah sepsang muda mudi yang tengah melakukan ritual pacaran. Salah satunya ya ini, aku ingin sekali menjerit kepada allah, kenpa aku harus  yang menjadi saksi tembok cinta, kenapa tidak seperti tembok cina, mereka justru dijadikan sebagi saksi perjuangan dan sejarah yang sampai saat ini masih dikenang.
            Aku menjadi dilematis, memang aku lebih sering mendengar dan melihat hamba-hamba tuhanku melakukan ibadah kepada Allah yang maha Agung sebagai bentuk rasa syukur serta kewajiban mereka. Aku sangat bahagia dan aku menjadi tenang.
            Tapi kali ini aku ingin retak, aku ingin runtuh saat ini juga, aku merasa sangat didzolimi oleh sepsang manusia ini.
Pria: “neng sekal"i aja ya…neng aa sayang banget sama neng”
Wanita: “ah aa,,,”
Bibir laki-laki itu menelusup ke sibibir wanita, si laki-laki itu juga terus menggerayangi dada si wanita, sepertinya mereka sangat menimatinya, aku tak bisa menutup mata, aku hanya berharap ada manusia lain yang mengngetahui aksi bejad ini.
Jelang beberapa menit seseorang datang dari sampingku.
“woi, apapan ini, ini rumah Allah ini rumah suci, apa yang kalian lakukan, seorang laki-laki memaki”
Yang sedang asyik melakukan kissing kaget bukan kepalang, apalagi wanitanya, wajahnya aku yakin sudah tak karuan.
buggghhhh..pukulan tepat mengenai wajah laki-laki itu, dia mengerang kesakitan, tak puas dengan apa yang dia lakukan, dia berteriak memanggil masa untuk mengabarkan bahwa ada yang sedang melakukan maksiat di rumah Allah. Puluhan orang berkumpul ada yang mengabadikan kejaian ini dengan kamera hape.
            Alhasil akupun ikut terpoto dengan si pelaku, keesokan paginya, aku menjadi cover utama disebuah surat kabar. Selama satu minggu orang-orang tak hentinya membicarakan kejadian memalukan itu.
            Tak heran banyak orang-orang yang melewatiku menggidik, karena ada juga manusia yang tega melakukan hal yang wajar dihadapnku, aku yakin orang-orangpun merasa kasian melihatku. Jelang beberapa bulan aku mulai senang diperhatikan oleh para pengurus disini, untuk menjelang hari raya akupun dipoles menjadi lebih indah, dengan polesan cet warna putih, kembali suci..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar