Saya
masih ditempat itu, dan saya dapat duduk, ya ngga mungkin juga saya makan
sambil berdiri, tak lupa saya juga memesan es cendol, uh lama sekali saya tidak
menyeruput es cendol. Yang datang duluan ternyata es cendol, padahal saya memesan
bakso terlebih dahulu, itu karena yang pesen bakso juga lumayan banyak, jadi
saya harus sabar.
Ditengah-tengah seruputan es cendol
siibu tukang bakso itu ngajak ngobrol kami, kami itu, ada saya, ada evi juga
siibu. Dan saya yakin dia itu adalah pemilik gerobak bakso, dan itu suaminya
yang sedang melayani pedagang. Dan itu betapa saya doyan menggunakan kata itu,
biarlah itu hak saya.
“neng kuliah?” si bui membuka pembicaraan.
“iya bu.” Singkat saya menjawab.
“jadi ingat dulu ibu juga kuliah, ibu
dulu kuliah di Universitas negri dibandung”, fantastic kuliah di bandung, ouh
ini juragan bakso kayanya, perkiraan saya.
“wah universitas apa bu?” saya
antusias.
“di Universitas XXXX” balasnya.
Hah???!! Emang ada universitas XXXX saya rasa tidak ada, dan anda pun pasti
setuju tidak ada, memang kenyataannya tidak ada, dan jikapun diadakan pasti
tidak akan ada yang mau jadi mahasiswa diuniversitas XXX itu. Jadi begini lho maksud XXX itu saya
menyembunyikan identitasnya. Kenapa disembunyikan, ya karena saya sekarang
serius tidak ingin membocorkannya.
Lantas kenapa seorang sarjana menjadi
tukang bakso, ini tidak menutup kemungkinan pasti dia seorang wirausahawan
sukses yang banyak membuka cabang baksonya dimana-mana. Khayal saya. Tapi
kenyataannya bukanlah demikian.
“Ibu mengalami kegoncangan dalam
masalah keuangan saat ibu lulus kuliah itu, yang akhirnya ibu memilih menjadi
pedagang bakso bersama suami” dengan rona wajah yang menyedihkan.
Saya
sempat menunda beberapa jeda santapan cendolnya, kalau sudah dihadapkan
dengan keadaan seperti ini saya suka bingung mau berbicara apa, soalnya takut
salah.
Dua mangkuk bakso datang, ah ini
sangat membantu saya yang tengah kebingungan menanggapi si ibu.
“eh neng baksonya tos aya,
mangga” jadi alih pembicaraan.
“nuhun ibu,,” aku senang bisa makan
juga, kasian cacing-cacing dalam perutku belum dikasih jatah, nanti demo lagi.
Bismillahirrahmanirrahim, eum yummy,
lumayan enak juga, saya lihat evi baru mengaduk-ngaduk baksonya, ah saya
biarkan saja dia. Eummm ini suapan kedua saya, semakin pedas rasanya, saya
melirik kembali ke evi, dia sudah mulai makan rupanya.
Evi zulfiqri, ada yang manggil si
evi, tapi dia santai saja ya, kupikir itu saya yang salah dengar, tunggu-tunggu
ini benar, evi zulfiqri dipanggil oleh petugas, sekarang giliran dia, dan
tentunya saya. Karena nomor urutan saya dengannya beruntun. Saya cepat beritahu
si evi.
Sial belum sempet minum, bibir saya
masih panas juga pedas, tapi saya pikir dari pada nunggu nanti lagi bisa-bisa
berabe.
Saya cepat merogoh uang dan membayar
bakso, harusnya saya bayar setengahnya, kan makan baksonya juga setengahnyapun
ngga. Tapi sudahlah saya tidak ingin berdebat, saya harus tahu diri.
Sesampainya disumber suara yang
memanggil nama evi juga nama saya, saya dipersilahkan masuk.
“neng sebelah sini satu” si lelaki
itu, tidak sangar sih, biasa saja. Sayapun menjauhi kursi yang diduduki evi.
Saya agak gugup, pasalanya saya ingin minum, bibbir saya panas.
“Tasikmalaya 16 September 1991”
“ya benar pa” jawab saya
“Ciamis 08 Mei 1992” kata si petugas
lagi
“ya pak”
“heh kamu tanggal lahir itu mana yang
benar” muka sangarnya muncul, saya kaget, tadi padahal maksud saya “ya pak”
itu, saya mau menjelaskan begini “ya pak, itu bukan tanggal lahir saya” eh ini
malah dibentak duluan, ya saya juga takut, jadi malah memilih diam.
“nama evi zulfiqrikan” bentaknya lagi
“bukan pak” tegas saya.
“bukan, nama kamu siapa?” geram si
petugas.
“nama saya meli”
“evi zulfiqri disni” ikut nimbrung
petugas didepan evi. Hualah untunglah dia memberi tahu yang sebenarnya.
“ih teu puguh pisan ieuteh” kesal
sipetugas didepan saya. teu itu tidak, puguh itu jelas, pisan itu banget,
iueteh ini.
“adik kakak ya?” penasaran si petugas
lagi.
Iya, saya adik kakak dengan evi, beda
ibu tapi lain ayah. Tidak, saya tidak jawab demikian. “bukan pak”, ah si bapak
ini banyak tanya gerutu saya, kenapa tidak dipercepat saja sih, tau orang
diluaran juga masih pada ngantre.
“tunggu dulu” katanya lagi. Tunggu
emangnya saya mau kemana? Kan saya belum mau pulang, apa dia mau ikut kerumah
saya iseng pikiran saya.
“ini datanya tertukar satu” diapun
menyobek, maksud saya memisahkan bagian data saya dan evi.
Ouh ternyata tertukar, kenapa tidak
dari tadi sih pak dilihat gitu, jadi saya tak usah dibentak-bentak.
Sesion berikutnya saya diphoto. “neng
melotot” perintah petugas lain, sayapun usahakan mata saya melotot, dan saya
rasa itu adalah pelototan yang paling melotot, karena saya merasakan mata saya
hampir loncat.
“neng kurang melotot” tegasnya lagi.
Ih si bapak menyebalkan deh, kesal
saya dibuatnya. Saya juga mendengar hal yang sama, evi juga katanya kurang
melotot, saya penasaran hasil jepretannya kaya gimana, pasti lucu.. he,,he,,
Terakhir saya cap tiga jari,
untunglah bukan cap kaki tiga ha,,ha,,, dihadapan saya ada seorang gadis
cantik, rambutnya menjutai panjang, badannya langsing, kulitnya putih.
Tiba-tiba si petugas lain meminta no hape gadis itu, “buat apa ya” jawab si
gadis. Buat data katanya. Tanpa ba bi bu, sigadis menuliskan no hapenya, dan
langsung pergi.
Waduh no hape, saya lupa dengan nomor
sendiri sayapun maju, tapi saya tidak diminta no hape, saya sempat bingung, ya
sudahlah tidak disuruh ini, saya pun menuju pintu keluar, begitupun dengan evi
yang mengekor dibelakang saya. Biarlah saya tidak mau tahu dan tak usah tahu
tentang si gadis manis dengan nohape yang pinta petugas itu.
Terakhir saya menelphone kerumah
untuk segera menjemput dua anak gadis ini, iya saya dan evi….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar