Kamis, 24 Januari 2013

Membuat KTP Part2#



            Saya masih ditempat itu, dan saya dapat duduk, ya ngga mungkin juga saya makan sambil berdiri, tak lupa saya juga memesan es cendol, uh lama sekali saya tidak menyeruput es cendol. Yang datang duluan ternyata es cendol, padahal saya memesan bakso terlebih dahulu, itu karena yang pesen bakso juga lumayan banyak, jadi saya harus sabar.
Ditengah-tengah seruputan es cendol siibu tukang bakso itu ngajak ngobrol kami, kami itu, ada saya, ada evi juga siibu. Dan saya yakin dia itu adalah pemilik gerobak bakso, dan itu suaminya yang sedang melayani pedagang. Dan itu betapa saya doyan menggunakan kata itu, biarlah itu hak saya.
“neng kuliah?” si  bui membuka pembicaraan.
“iya bu.” Singkat saya menjawab.
“jadi ingat dulu ibu juga kuliah, ibu dulu kuliah di Universitas negri dibandung”, fantastic kuliah di bandung, ouh ini juragan bakso kayanya, perkiraan saya.
“wah universitas apa bu?” saya antusias.
“di Universitas XXXX” balasnya. Hah???!! Emang ada universitas XXXX saya rasa tidak ada, dan anda pun pasti setuju tidak ada, memang kenyataannya tidak ada, dan jikapun diadakan pasti tidak akan ada yang mau jadi mahasiswa diuniversitas XXX itu.  Jadi begini lho maksud XXX itu saya menyembunyikan identitasnya. Kenapa disembunyikan, ya karena saya sekarang serius tidak ingin membocorkannya.
Lantas kenapa seorang sarjana menjadi tukang bakso, ini tidak menutup kemungkinan pasti dia seorang wirausahawan sukses yang banyak membuka cabang baksonya dimana-mana. Khayal saya. Tapi kenyataannya bukanlah demikian.
“Ibu mengalami kegoncangan dalam masalah keuangan saat ibu lulus kuliah itu, yang akhirnya ibu memilih menjadi pedagang bakso bersama suami” dengan rona wajah yang menyedihkan.
Saya  sempat menunda beberapa jeda santapan cendolnya, kalau sudah dihadapkan dengan keadaan seperti ini saya suka bingung mau berbicara apa, soalnya takut salah.
Dua mangkuk bakso datang, ah ini sangat membantu saya yang tengah kebingungan menanggapi si ibu.
“eh neng baksonya tos aya, mangga”  jadi alih pembicaraan.
“nuhun ibu,,” aku senang bisa makan juga, kasian cacing-cacing dalam perutku belum dikasih jatah, nanti demo lagi.
Bismillahirrahmanirrahim, eum yummy, lumayan enak juga, saya lihat evi baru mengaduk-ngaduk baksonya, ah saya biarkan saja dia. Eummm ini suapan kedua saya, semakin pedas rasanya, saya melirik kembali ke evi, dia sudah mulai makan rupanya.
Evi zulfiqri, ada yang manggil si evi, tapi dia santai saja ya, kupikir itu saya yang salah dengar, tunggu-tunggu ini benar, evi zulfiqri dipanggil oleh petugas, sekarang giliran dia, dan tentunya saya. Karena nomor urutan saya dengannya beruntun. Saya cepat beritahu si evi.
Sial belum sempet minum, bibir saya masih panas juga pedas, tapi saya pikir dari pada nunggu nanti lagi bisa-bisa berabe.
Saya cepat merogoh uang dan membayar bakso, harusnya saya bayar setengahnya, kan makan baksonya juga setengahnyapun ngga. Tapi sudahlah saya tidak ingin berdebat, saya harus tahu diri.
Sesampainya disumber suara yang memanggil nama evi juga nama saya, saya dipersilahkan masuk.
“neng sebelah sini satu” si lelaki itu, tidak sangar sih, biasa saja. Sayapun menjauhi kursi yang diduduki evi. Saya agak gugup, pasalanya saya ingin minum, bibbir saya panas.
 “Tasikmalaya 16 September 1991”
“ya benar pa” jawab saya
“Ciamis 08 Mei 1992” kata si petugas lagi
“ya pak”
“heh kamu tanggal lahir itu mana yang benar” muka sangarnya muncul, saya kaget, tadi padahal maksud saya “ya pak” itu, saya mau menjelaskan begini “ya pak, itu bukan tanggal lahir saya” eh ini malah dibentak duluan, ya saya juga takut, jadi malah memilih diam.
“nama evi zulfiqrikan” bentaknya lagi
“bukan pak” tegas saya.
“bukan, nama kamu siapa?” geram si petugas.
“nama saya meli”
“evi zulfiqri disni” ikut nimbrung petugas didepan evi. Hualah untunglah dia memberi tahu yang sebenarnya.
“ih teu puguh pisan ieuteh” kesal sipetugas didepan saya. teu itu tidak, puguh itu jelas, pisan itu banget, iueteh ini.
“adik kakak ya?” penasaran si petugas lagi.
Iya, saya adik kakak dengan evi, beda ibu tapi lain ayah. Tidak, saya tidak jawab demikian. “bukan pak”, ah si bapak ini banyak tanya gerutu saya, kenapa tidak dipercepat saja sih, tau orang diluaran juga masih pada ngantre.
“tunggu dulu” katanya lagi. Tunggu emangnya saya mau kemana? Kan saya belum mau pulang, apa dia mau ikut kerumah saya iseng pikiran saya.
“ini datanya tertukar satu” diapun menyobek, maksud saya memisahkan bagian data saya dan evi.
Ouh ternyata tertukar, kenapa tidak dari tadi sih pak dilihat gitu, jadi saya tak usah dibentak-bentak.
Sesion berikutnya saya diphoto. “neng melotot” perintah petugas lain, sayapun usahakan mata saya melotot, dan saya rasa itu adalah pelototan yang paling melotot, karena saya merasakan mata saya hampir loncat.
“neng kurang melotot” tegasnya lagi.
Ih si bapak menyebalkan deh, kesal saya dibuatnya. Saya juga mendengar hal yang sama, evi juga katanya kurang melotot, saya penasaran hasil jepretannya kaya gimana, pasti lucu.. he,,he,,
Terakhir saya cap tiga jari, untunglah bukan cap kaki tiga ha,,ha,,, dihadapan saya ada seorang gadis cantik, rambutnya menjutai panjang, badannya langsing, kulitnya putih. Tiba-tiba si petugas lain meminta no hape gadis itu, “buat apa ya” jawab si gadis. Buat data katanya. Tanpa ba bi bu, sigadis menuliskan no hapenya, dan langsung pergi.
Waduh no hape, saya lupa dengan nomor sendiri sayapun maju, tapi saya tidak diminta no hape, saya sempat bingung, ya sudahlah tidak disuruh ini, saya pun menuju pintu keluar, begitupun dengan evi yang mengekor dibelakang saya. Biarlah saya tidak mau tahu dan tak usah tahu tentang si gadis manis dengan nohape yang pinta petugas itu.
Terakhir saya menelphone kerumah untuk segera menjemput dua anak gadis ini, iya saya dan evi….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar