Lima tahun sudah berlalu pernikahan
kedua Adi, sepertinya keluarga kecil itu bahagia dan tidak ada masalah apapun,
itulah sepengetahuan orang-orang. Melihat anak istri Adi pada sehat dan badannya
berisi. Tapi kenyataanya mungkin tidak seperti itu.
Semenjak
menikah dengan Rosela, istri keduanya, Adi membuka usaha warung kecil, dengan
waktu sudah lumayan lama, tapi usaha kecilnya tidak berkembang dengan baik,
jadi Adi mencari alternative lain, Adi menjadi buruh disebuah pabrik, itu sudah
mendingan untuk menutupi biaya hidup keluarganya, terlebih anaknya sekarang
sudah mulai sekolah TK. Adi harus semakin giat mengumpulakn uang untuk masa
depan anaknya.
Rupanya
uang hasil jeripayahnya itu masih terasa kurang bagi istrinya, untuk membayar
uang sewa kontarakan rumah, biaya makan sehari-hari, susu Deva, ditambah
kebiasaan belanja Rosela yang berlebihan dan lain-lainnya. Akhirnya sang istri
meminta untuk tinggal sementara waktu dirumah ibunya, Adi mengizinkan karena Adi
tak pernah menolak apa yang dipinta sang istri, Adi selalu menurutinya. Begitu
juga alasan kenapa uang hasil kerjanya hampir tak pernah cukup, karena istri Adi
kurang bisa mengatur keuangan, sementara Adi tidak bisa berbuat banyak mencegah
istri.
Perusahaan
tempat Adi bekerja sedang heboh PHK, rasa takut menghantui Adi, mimpi burukpun
menjadi kenyataan, Adi termasuk salah satu pekerja yang diPHK, kini
hari-harinya menjadi tak karuan, Adi sudah mulai mencari informasi pekerjaan
lain. Tapi tentunya itu tidak mudah.
Pagi
dirumah mertua yang sama sekali Adi tak harapkan, wajahnya menatap wajan penggorengan, juga piring-piring
yang masih berantakan dan kotor, ini masih pukul lima pagi, Adi melihat Ayah
mertuanya sudah asyek dengan BBnya diruang tamu, semnatara Ibu mertuanya, entahlah
Adi tidak tahu, karena masih dikamarnya. Sementara sang istri tidur lagi
bersama anaknya.
Adi
sekarang merasa betapa harga dirinya terluka, bukan karena tanpa alasan Adi
pergi kedapur untuk mencuci piring, masak menyiapakan sarapan pagi, tapi karena
semua itu sudah diperintahkan oleh Ayah dan Ibu mertua. Dan kenapa istrinya
tidak membantu, itulah dari awal menikah istri dimanjakan oleh Ibunya, dan
karena latar keluarga yang berbeda, menjadikan Adi medapatkan perlakuan yang
kurang nyaman.
Adi
sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti itu, Adi tak mau buang-buang waktu,
segeranya Adi lakukan satu persatu tugasnya. Sampai tak terasa mentari sudah
mulai muncul dengan indahnya.
Tapi
tugas Adi belum selesai, Adi mencuci seluruh pakaian, sandal, sepatu, anak,
istri, mertua, dan miliknya juga. Setelah dirasanya selesai, Adi minta izin
kepada istri untuk menemui Ibu angkatnya yang beda kecamatan, dengan alasan Adi
lama tak pulang, juga mencari informasi pekerjaan. Sang istri tidak keberatan. Adi
tidak izin kepada mertua, karena memang tidak ada, sudah berangkat bekerja.
Sepanjang
perjalanan pikirannya maju mundur, maju memikirkan bagaimana kedepannya nanti,
dan mundur mengingat pernikahan pertamanya dengan Iis, Adi masih ingat gadis
itu lembut, rajin, dan lebih ramah, karena Iis tipe wanita pendiam.
Tapi
mertuanya yang ikut campur dengan keluarganya, sehingga sang istri lebih
menurut sang Ibu, ketimbang Adi suaminya. Mendengar itu Ibu Adi yang di Madura
meminta Adi pisah saja, begitupun dengan Ibu angkat Adi, mereka manyarankan Adi
bercerai, dan setelah dirasa-rasa ternyata sang mertua kurang suka juga dengan
Adi, karena Adi belum memiliki pekerjaan tetap.
Cerai,
itu jalan yang diambil Adi. Sampai takdir memperkenankan Adi menikah lagi
dengan gadis yang lebih energik, lebih cantik. Sebelumnya keluarga sudah
mewanti-wanti agar Adi harus benar-benar memilih istri, jadikan yang dulu-dulu
menjadi pelajaran untuknya.
Pernikahan
yang keduanya kurang disukai oleh keluraganya, dengan alasan, jarang ada lelaki
daerahnya menikah dengan daerah tetangga seberang kecamatannya. Katanya anak
gadis sana banyak tingkahnya.
Adi
tak peduli, yang Adi rasakan hanyalah cintanya yang tulus kepada Rosela, gadis hitam manis dan rambut
panjang. Itu alasan yang Adi ungkapkan kepada keluarganya. Ibu angkatnya sempat
geleng-geleng kepala waktu itu, “terserah kamu Adi Ibu sudah mewanti-wantimu.
Jika memang Rosela pilihanmu terserah”, sekarang mulai terngiang-ngiang
kata-kata Ibunya.
Adi
bingung apa yang hendak diperbuatnya, Adi mengakui bahwa dirinya tidak tegas,
Adi merasa dirinya gagal menjadi kepala rumah tangga yang baik, imam yang baik.
Pikirannya kembali maju, Adi ingin bicara, tapi Adi malu, mengingat dirinya
adalah laki-laki, dan laki-laki itu jarang yang mau bercerita tentang
permasalahan yang dihadapai kaum adam itu, buat laki-laki bercerita berarti
sama saja harga diri sebagai laki-lakinya terluka.
Tapi
rasa kelelakiannya itu melunak, walau bagaimanapun juga dia harus cerita kepada
ibunya, ini bukan untuk membuka aib keluarganya, dan membeberkan masalahnya,
tapi untuk mencari solusi, juga mencrai masukan, dari ibu. Dan Adi yakin ibunya
lebih faham dengan karakter wanita.
Sesampainya
dirumah, Adi langsung menyalami anggota keluarga yang kebetulan pada kumpul.
Niatnya untuk cerita dia urungkan terlebih dahulu melihat situasi yang tidak
memungkinkan.
Beberapa
saat kemudian, Adi melihat ibunya tengah duduk dikursi sendirian, segera Adi
menghampirinya.
“Ibu…” katanya, ragu-ragu.
Ibunya menatap heran. “Kenapa Adi?? Oh
iya Rosela, Deva mana kau tidak mengajaknya kemari?.”
“tidak Bu, Adi sengaja tidak
mengajaknya, hmm,,, Ibu sebenarnya Adi ingin berbicara kepada Ibu” Adi sedikit
sungkan.
“bicaralah Adi, sepertinya kau ada
masalah” ibu mulai curiga, dan memang naluri seorang ibu kuat, meski Adi tidak
terlahir dari rahimnya, tapi pengasuhan dari bayi membuat Ibu peka.
“ada masalah dengan istrimu ya?” tebak
ibunya.
“iya bu..” ceritanya langsung mengalir
dari bibir Adi.
“sudah ibu bilang dari dulu juga jangan
menikah dengan orang sana, kamu ini ngeyel tak mau mendengar kata-kata ibu” ibu
menghela nafas.
“kau ini laki-laki Adi” sedikit meninggi
suaranya, kemudian menarik nafas lagi, ibu mencoba menormalkan nafas dan
suaranya.
Adi
terdiam, kelu lidahnya, Adi tak dapat berbuat banyak untuk membela dirinya.
Ibunya seperti membenarkan kata-kata pada dahulu kala. Tapi ibu tidak setega itu kepada Adi,
dicobanya diberikan masukan supaya Adi bisa tegas sebagai kepala keluarga, dan
harus lebih berani lagi mendidik istri dan anaknya.
Ibunya
berpikir kedepan, dia tidak meninta Adi untuk menceraikan Rosela, apalagi Adi
sudah memiliki anak. Panjang lebar ibu menjelaskan bagaimana wanita, dan apa
saja yang harus Adi lakukan. Adi mendengarkannya dengan baik.
Dengan sedikit lega, Adi pulang kerumah
dengan membawa nasehat sang ibu juga oleh-oleh untuk Deva. Meski ini terlambat,
tapi Adi optimis bisa merubahnya. Senyum dan semangat mengiringi perjalanan
pulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar