Suasana kampus masih terasa panas, pengap, bau keringat, bau minyak wangi, bau bauan ada deh kayanya, wajah kusut, wajah kalut dan berbagai ekspresi wajah, setelahnya mereka dan tentunya saya selesai mengerjakan UAS kami keluar ruangan, berbagai alasan pula keluar, ada yang langsung ke kantin, ke WC, atau hanya sekedar duduk.
Dan saya sendiri tidak duduk, tidak
pula berjalan, tidak jongkok. Tp saya berdiri tepat disamping kursi-kursi yang
sudah penuh. Suddenly hape saya berbunyi.. kring,,,kring,,, sebenarnya ngga
gitu juga sih bunyinya, ah pura-pura aja suaranya seperti itu. Ya jadi my ummi
tercinta menelpon saya untuk pulang kerumah.
Untuk apa saya pulang, ada
kepentingan saja. Ah jangan berpikir yang iya-iya deh, apa saya perlu kasih tahu
ya? Kalau tidak mungkin saya akan digosipkan oleh teman saya, teman saya ke
temannya lagi, nyampe deh tu ke para tetangga, tidak segitunya juga kali…tapi
kalau digosipkan beneran gimana ? g mau ah, saya belum siap terkenal.
Uke deh saya kasih tahu aja, nanti
takutnya beneran jadi gossip, jadi saya pulang itu akan membuat KTP baru, yang
dulu juga sebenarnya masih ada belum abis, bahkan tahunya belum kadaluarsa,
soalnya ini tahun masih 2012 dan di KTP saya itu kadaluarsanya tahun 2015, uh
masih lama kan.
Ah sudahlah itu urusan para
RT,RW,CAMAT, juga para petugasnya. Setelah saya mendapat intruksi pulang,
sayapun lekas menyeret evi kejalan, kejam banget! bukan itu maksudnya saya
mengajak evi untuk ikut pulang juga.
Rencana pulang tidak kerumah dulu
melainkan saya harus langsung ke KECAMATAN. Betapa teganya saya, sungguh tidak
tahu diri selama tinggal hampir sepuluh tahun di Rancah, saya baru tahu kalau
itu adalah Kantor kecamatannya. Itupun setelah saya diantar anak buah sepupuh
saya, ya lagi-lagi sepupuh saya tidak bisa mengantar saya, alasannya karena
banyak kerjaan.
Saya tidak mau tahulah yang penting
saya harus cepat sampai ke itu tempat. Karena menurut info dari ummi, ngantri
banget, karena panjang pula tambahnya. Sepanjang apa ya? Apa panjangnya antrean
pembuatan KTP di kecamatan Rancah dapat memecahkan rekor muri?? Tidak tahu,
karena saya belum sampai disana, masih dijalan.
Astaghfirulloh, disitu ada banyak
anak-anak dibawah umur 17 tahun, saya heran saat sampai ditempat itu, kenapa
bisa-bisanya petugas memperbolehkan anak kecil membuat KTP, parahhhh pikir
saya. Mendekatlah saya ke anteran itu, eh itu the ternyata anak-anak yang
ngikut emak bapaknya untuk buat KTP, hi,,hi,,,
Seorang bibi dari kampung yang sama
rupanya sudah menunggu lama begitu, dia menyalami saya, saya kaget saya itu tau
wajah bibi-bibi itu, tapi saya tidak tahu namanya.
“Neng bade ngadamel KTP oge?” Dengan
sopannya, bade itu mau, ngadamel itu bikin, oge itu juga.
“muhun bi, tos lami bibi didieu?”
saya jawab seramah mungkin.
“Wah neng, bibimah tos lami ti enjing
mula ngantosanna oge, tuh dugi ka ngabaso heula” tuturnya..
“waduh, atuh abi kabagean irahanya?
Ari bibi anu titatadi oge teu acannmah”
sembari melirik tumpukan mangkok bakso yang mau dicuci mamang bakso, apa
bibi itu makan bakso sebanyak itu?? Aku tidak yakin, karena melihat
perawakannya yg kurasa dia makan tidak serakus itu. Ah biarlah itu urusan dia
dengan perutnya, juga dengan tukang bakso.
“nengmah kawasna kabagean sonten”
masih dalam posisi yang sama aku yang mematung berdiri. Dan sibibi duduk, iya
duduk dia tidak sedang berbaring, he,,he,,,.
Sore???!!!!, aku ga kebayang gimana
nanti aku pulangnya, udahmah hujan, laper, ngantuk, capek, ngantre, dan
berbagai alasan yang membuat aku enggan mengantre kaya bagi-bagi BLT.
Saya mulai merasa pegal kaki, ingin
duduk, menunggu si bibi memperbolehkan saya duduk, tapi tidak juga, ah kejam
sekali bibi ini pikir saya, ga kasian sama gadis yang kecapean. Munngkin saya
yang egois. Biarlah saya tetap berdiri, toh saya berdiri tidak sendiri, masih
banyak mahluk Allah yang sama berdiri, ya ada pohon kelapa, pohon albi, dan
berbagai pohon. Sedikit menghibur diri.
Ada yang menjerit dari saku gamis
saya, itu hape saya minta di angkat, ternya umy.
“assalamualaikum, selamat sore dengan Zona
red, ada yang bisa saya bantu?” nada saya dibuat seperti operatosr gadungan.
“waalaikumsalam, dimarana ayeuna? Tos
dugi di KECAMATAN” begitu kata hape saya, ajaib bisa ngomong sendiri, siapa
tuhan pemberi nyawanya? Sudah-sudah yang jelas tuhan saya hanya ALLAh. Saya
tidak urusan membahas hape butut itu. Iya bututlah dibanding BBmah .
“udah umy, sekarang kita sudah di
kecamtan” jawab saya.
“kalian sudah makan?” wah kebetulan
sekali saya lapar, apakah ummy akan mengantarkan rantang makanan kesini??
Pikiran itu segrea saya tepis, rasanya mustahil ummy membawakan kami makannan
ketempat ini.
“belum ummy, kebetulan laper nih”
“ya sudah kalian belilah makanan,
masa perut kalian yang laper ga makan, sudah bukan anak kecil lagi, g usah
nunggu intruksi ummy .” waduh-waduh itu si ummy kuejam buener. Tapi betul juga
yang laperkan bukan ummy.
“iya ummy, disini ada tukang bakso,
sepertinya kami jajan bakso dulu sambil menunggu dipanggil”
“sok atuh, ummy mau tutup dulu
teleponnya , aslamualaikum” ummy mengakhiri.
Evi mulai colak-colek lenganku, aku
tahu anak ini pasti kepengen makan, sudahlah saya pesan bakso 2, karena saya
tidak suka makan bakso, jadi baksonya saya lemper ke evi nanti. Jangan tanya
alasan saya tidak suka makan bakso. Itu sejarahnya panjang. Saya tak ingin
membahasnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar