Kamis, 24 Januari 2013

Membuat KTP Part1#



Suasana kampus masih terasa panas, pengap, bau keringat, bau minyak wangi, bau bauan ada deh kayanya, wajah kusut, wajah kalut dan berbagai ekspresi wajah, setelahnya mereka dan tentunya saya selesai mengerjakan UAS kami keluar ruangan, berbagai alasan pula keluar, ada yang langsung ke kantin, ke WC, atau hanya sekedar duduk.
Dan saya sendiri tidak duduk, tidak pula berjalan, tidak jongkok. Tp saya berdiri tepat disamping kursi-kursi yang sudah penuh. Suddenly hape saya berbunyi.. kring,,,kring,,, sebenarnya ngga gitu juga sih bunyinya, ah pura-pura aja suaranya seperti itu. Ya jadi my ummi tercinta menelpon saya untuk pulang kerumah.
Untuk apa saya pulang, ada kepentingan saja. Ah jangan berpikir yang iya-iya deh, apa saya perlu kasih tahu ya? Kalau tidak mungkin saya akan digosipkan oleh teman saya, teman saya ke temannya lagi, nyampe deh tu ke para tetangga, tidak segitunya juga kali…tapi kalau digosipkan beneran gimana ? g mau ah, saya belum siap terkenal.
Uke deh saya kasih tahu aja, nanti takutnya beneran jadi gossip, jadi saya pulang itu akan membuat KTP baru, yang dulu juga sebenarnya masih ada belum abis, bahkan tahunya belum kadaluarsa, soalnya ini tahun masih 2012 dan di KTP saya itu kadaluarsanya tahun 2015, uh masih lama kan.
Ah sudahlah itu urusan para RT,RW,CAMAT, juga para petugasnya. Setelah saya mendapat intruksi pulang, sayapun lekas menyeret evi kejalan, kejam banget! bukan itu maksudnya saya mengajak evi untuk ikut pulang juga.
Rencana pulang tidak kerumah dulu melainkan saya harus langsung ke KECAMATAN. Betapa teganya saya, sungguh tidak tahu diri selama tinggal hampir sepuluh tahun di Rancah, saya baru tahu kalau itu adalah Kantor kecamatannya. Itupun setelah saya diantar anak buah sepupuh saya, ya lagi-lagi sepupuh saya tidak bisa mengantar saya, alasannya karena banyak kerjaan.
Saya tidak mau tahulah yang penting saya harus cepat sampai ke itu tempat. Karena menurut info dari ummi, ngantri banget, karena panjang pula tambahnya. Sepanjang apa ya? Apa panjangnya antrean pembuatan KTP di kecamatan Rancah dapat memecahkan rekor muri?? Tidak tahu, karena saya belum sampai disana, masih dijalan.
Astaghfirulloh, disitu ada banyak anak-anak dibawah umur 17 tahun, saya heran saat sampai ditempat itu, kenapa bisa-bisanya petugas memperbolehkan anak kecil membuat KTP, parahhhh pikir saya. Mendekatlah saya ke anteran itu, eh itu the ternyata anak-anak yang ngikut emak bapaknya untuk buat KTP, hi,,hi,,,
Seorang bibi dari kampung yang sama rupanya sudah menunggu lama begitu, dia menyalami saya, saya kaget saya itu tau wajah bibi-bibi itu, tapi saya tidak tahu namanya.
“Neng bade ngadamel KTP oge?” Dengan sopannya, bade itu mau, ngadamel itu bikin, oge itu juga.
“muhun bi, tos lami bibi didieu?” saya jawab seramah mungkin.
“Wah neng, bibimah tos lami ti enjing mula ngantosanna oge, tuh dugi ka ngabaso heula” tuturnya..
“waduh, atuh abi kabagean irahanya? Ari bibi anu titatadi oge teu acannmah”  sembari melirik tumpukan mangkok bakso yang mau dicuci mamang bakso, apa bibi itu makan bakso sebanyak itu?? Aku tidak yakin, karena melihat perawakannya yg kurasa dia makan tidak serakus itu. Ah biarlah itu urusan dia dengan perutnya, juga dengan tukang bakso.
“nengmah kawasna kabagean sonten” masih dalam posisi yang sama aku yang mematung berdiri. Dan sibibi duduk, iya duduk dia tidak sedang berbaring, he,,he,,,.
Sore???!!!!, aku ga kebayang gimana nanti aku pulangnya, udahmah hujan, laper, ngantuk, capek, ngantre, dan berbagai alasan yang membuat aku enggan mengantre kaya bagi-bagi BLT.
Saya mulai merasa pegal kaki, ingin duduk, menunggu si bibi memperbolehkan saya duduk, tapi tidak juga, ah kejam sekali bibi ini pikir saya, ga kasian sama gadis yang kecapean. Munngkin saya yang egois. Biarlah saya tetap berdiri, toh saya berdiri tidak sendiri, masih banyak mahluk Allah yang sama berdiri, ya ada pohon kelapa, pohon albi, dan berbagai pohon. Sedikit menghibur diri.
Ada yang menjerit dari saku gamis saya, itu hape saya minta di angkat, ternya umy.
 “assalamualaikum, selamat sore dengan Zona red, ada yang bisa saya bantu?” nada saya dibuat seperti operatosr gadungan.
“waalaikumsalam, dimarana ayeuna? Tos dugi di KECAMATAN” begitu kata hape saya, ajaib bisa ngomong sendiri, siapa tuhan pemberi nyawanya? Sudah-sudah yang jelas tuhan saya hanya ALLAh. Saya tidak urusan membahas hape butut itu. Iya bututlah dibanding BBmah .
“udah umy, sekarang kita sudah di kecamtan” jawab saya.
“kalian sudah makan?” wah kebetulan sekali saya lapar, apakah ummy akan mengantarkan rantang makanan kesini?? Pikiran itu segrea saya tepis, rasanya mustahil ummy membawakan kami makannan ketempat ini.
“belum ummy, kebetulan laper nih”
“ya sudah kalian belilah makanan, masa perut kalian yang laper ga makan, sudah bukan anak kecil lagi, g usah nunggu intruksi ummy .” waduh-waduh itu si ummy kuejam buener. Tapi betul juga yang laperkan bukan ummy.
“iya ummy, disini ada tukang bakso, sepertinya kami jajan bakso dulu sambil menunggu dipanggil”
“sok atuh, ummy mau tutup dulu teleponnya , aslamualaikum” ummy mengakhiri.
Evi mulai colak-colek lenganku, aku tahu anak ini pasti kepengen makan, sudahlah saya pesan bakso 2, karena saya tidak suka makan bakso, jadi baksonya saya lemper ke evi nanti. Jangan tanya alasan saya tidak suka makan bakso. Itu sejarahnya panjang. Saya tak ingin membahasnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar