Kamis, 24 Januari 2013

Kapal kertasku



Kapal kertas, kemanakah kau akan terbang??
Percaya ga percaya radar ini menemukan  jalannya,,,
Darimana saya harus bercerita? Apa dari “syndrome perahu kertas dengan radar neptunusnya???” tak usah rasanya terlalu jauh untuk itu. Bukan, ini radar cinta, azip plus lebay..
Kabar pulang itu..
Hari Minggu mamah memberi tahu saya bahawa beliau akan pulang ke kampung halaman. Heum ada yang tahu apa yang saya rasakan saat mendengar itu??? Bahagia, yupz,, karena apa? Karena saya akan berjumpa dengannya dan itu mencairkan rindu saya yang lama membeku dihati.betapa tidak, dua tahun saya tidak berjumpa dengan mamah tercinta, ya saya bertemu dengan mamah itu dulu di mesjid agung  Sukaraja – Tasikamlaya. Itupun hanya sebentar, sekitar sepuluh menit. *sambil curhat nih ceritanya, he,,,he..* heum jadi memutar balik masa lalau, oke saya kembali ke cerita mamah saya pulang.
“neng, mamah hari selasa sudah ada dirumah, tapi hari rabunya mamah berangkat lagi ke Bangka” Gleeekkkk!! Terasa keselek jadinya. Oalah sebentar sekali. Gimana saya bisa kangen-kangenan sama mamah kalau sebentar, tapi saya kembali sadar ini kenyataan, pahit manis harus saya terima. Itu berarti saya harus memanfaatkan waktu sebentar itu untuk bertemu, memeluk, mencium mamah. (kayak ke bayi aja heu,,).
Dan eng ing eng saya akan mengajak sahabat saya Zulf untuk menemani saya menemui mamah. Rencana punya rencana ya namanya juga rencana manusia, Allah lah yang berkehendak. Lantas apa yang terjadi?? Ga usah panic, tidak ada apa-apa ko. Celius. Jadi begini, saya dan Zulf tidak jadi ke Tasik pada hari yang sudah ditentukan itu, ada dua faktor alasan.
1.      Saya dan mamah saya tiba-tiba kehilangan kontak. No hp mamah tidak aktif.
2.      Zulf sakit, dan ummi menjemputnua pulang,

Saya pun hanya bisa berdendang “sendiri lagi seperti dahulu tanpa dirimu disisiku..” galau menghinggapi tempurung hati saya, ko jadi tempurung hati ya, bukan tempurung kepala. Biarlah saya ingin menulis begitu. Bebas inikan. Selanjutnya apa yang saya takutkan terjadi, airmata, ya air mata menetes juga.. berdampak pula dengan FB saya yang isi statusnya galau-galau ria.tangisnya sampai tak henti-hentinya mengalahkan hujan sore itu (berlebihan).. tidak sampai begitu juga kali..
Hari selasa sore harinya mamah tercinta, yupz tercinta meskipun saya sempet kesel juga. Begini katanya: mamah besok ingin berjumpa dengan anak gadisnya yang paling cantik di terminal Tasik sebelum pergi lagi ke Bangka. Setelah tahu demikian adanya sayapun harus cancel tugas saya ke sekolah, saya izin untuk hari rabu tidak masuk.
***
Saya melirik jam yang menempel di dinding kamar,  yang berdentang tak bersuara, ini memang tidak salah, suaranya kalah dengan berisik anak-anak bacotil (barudak cobonk tilu). Pukul enam lewat lima belas menit, masih ada waktu untuk siap-siap, kemudian saya ingin mengecek alat komunikasi saya yang saya pinjam dari Ai, karena hp saya mati. Tapi trenyata  Ai sudah mengambilnya,  ya namanya juga pinjem, makasih ya Ai he,, and saya ngahuleng??? Terus bagaimana saya menghubungi mamah?? Ga mungkin juga kan saya mamanggul seeng ha,,ha,,
Bu De pencetus ide berlian, maksud saya brilian, dia menyarankan saya untuk meminjam hape Yuri, kenapa juga saya berani? Ya karena Yuri punya dua.mlau sih malu tapi lagi butuh. Sesame muslim harus saling membantu “dalil penguat agar dikasih pinjem” maksa.com jadinya.. dan Yuri yang baik hati berkata iya the boleh, tapi maaf setiap setengah jam sekali harus di cas. Waduh, tapi tak apalah yang penting saya nanti bisa menghubungi mamah, kalau sudah bertemu kan kelar urusan, saya langsung pulang lagi ini. begitu pikir saya.

Antara Ciamis - Tasikmalaya

Waktu menunjukan pukul tujuh, entah lebih berapa, entah kurang berapa entah pas, tapi saya hanya menyebutnya pukul tujuh saja. Di ulangi lagi pukul tujuh pagi hari rabu 17 januari 2013 saya bernama Zona Red sudah nongkrong diterminal Ciamis sedang  menunggu bis jurusan Tasikmalaya. Tak perlu menunggu waktu lama, bis sudah meluncur, sayapun langsung naik. Mencari tempat duduk yang sekiranya aman dan nayman. Beruntung bis masih belum penuh jadi saya bisa memeilih tempat duduk dan saya memilih di dekat jendela, sengaja biar bsa memandang ke luar. Tempat duduk samping saya masih kosong, saya berharap jikapun ada yang duduk nantinya semoga saja wanita, terlepas dari itu mau ibu-ibu, nenek-nenek, remaja ataupun anak-anak. Ya saya lebih baik duduk bersebelahan dengan nenek-nenek ketimbang duduk dengan seorang pemuda. Bukan apa-apa takut kesetrum. Heu.. heu.. kaya listrik aje ye..
Tak lama kemudian bis melaju, setelah bis melaju agak menjauh dari terminal Ciamis, tiba-tiba bis itu ada yang memberhentikan. Jelaslah kan ada penumpang yang mau naik. Kirain satu orang ternayata lumayan banyak juga, jadi itu bis penuh, dan jadilah seorang bapak-bapak duduk disamping saya. Heum, saya langsung pasang ciput jaket, menutupi wajah saya. Bukan apa-apa juga sih, Cuma lagi ga mau di ajak bicara. Takutnya entar si bapak-bapak itu najak saya ngobrol.
Dirasa-rasa tidak nyaman juga saya, dibukalah si ciputnya, saya membuka wajah saya, dan si bapak menoleh. Seperti apa saya prasangkakan sebelumnya. Si bapak mulai bertanya tujuan saya mau kamana, kemudian dia ngurusin ongkos bis yang mahal. Setelah itu dia menyangka saya anak SMA, eum itu sih semenjak saya kuliah saya itu pastinya disangka anak SMA. Dan itu sampai sekarang saya tingkat tiga. Tidak berubah masih disangka anak SMA. Entah melihat dari tubuh saya yang mungil? Atau wajah saya yang imut (maunya), tapi saya tidak tersinggung, toh sudah biasa.
Saya menjawab jujur saja, bahwa saya kuliah. and dia pun bercerita tentang dirinya yang dahulu sekolah di SMPnya. Setelah itu dia (bapak-bapak) menyakan asal saya dari mana. Saya jawab juga dari Ciamis. Dan saya bisa pastikan bapak itu tidak tahu daerah Ciamis, karena logat bicaranya yang seperti jawa, serta bahsa sunda yang kasar.
Prediksi saya salah, ternyata dia itu juga orang Ciamis tepatnya di Jellat yang deket dengan Baregbeg, yang deket dengan Universitas Galuh. Ah saya males menanggapainya, jadi saya bilang saja saya kurang tahu daerah Ciamis (faktanya demikian), ya saya hanya tau daerah tempat-tempat tertentu saja.
Mobil semakin menjauh, tak terasa sudah memasuki Tasikmalaya. Saya mulai was-was, saya kirim pesan kepada mamah, tapi tak ada balasannya. Saya dan mamah sudah janjian di terminal Tasik, tapi kata si bapak-bapak itu, kalau tujuan ke Jakarta biasanya langsung di PO nya, sedangkan PO nya sudah terlewat. Tapi saya sudah yaklin, saya akan bertemu dengan mamah diterminal.
Si bapak itu tidak yakin kepada saya, dia meragukan saya. Ah masa bodo, toh saya yang mau menjalaninya ko. Bis berhenti di terminal dan semua penumpang turun termasuk saya dan bapak-bapak itu. Saya mengambil langkah terlebih dahulu darinya, tapi dia mengikuti saya.
GEER ha,,ha,, kan sama tujuannya terminal ngapaian berasa di ikuti segala ya. Ah dasar Zona jadi paranoid deh. Ada bangku kososng saya langsung duduk saja sembari saya ingin tsms mamah lagi, hanya untuk menegaskan dan meyakinkan. Tapi duh gusti hape saya mati (maksudnya hape pinjeman). Dan saya tak tahu apa mamah sudah sampai dan belum, apa jadi bertemu atau tidak…

Bukan radar neptunus tapi radar  tenggek (siput) Part 1

Saya mulai bangkit dari tempat duduk dan mulai berjalan, saya teringat filem perahu kertas I Kugy yang menemukan Keenan dengan radar neptunusnya, dengan ciri khasnya, angkat dua telunjuk ke atas kepala. Dan hati saya mengikuti itu, tapi bedanya telunjuk tangan saya tidak di acungkan. Saya masih punya rasa malu jika saya berbuat aneh seperti itu.
Saya terus jalan lurus, rupanya radar saya kuat, mata saya langsung menenagkap Ega, pandangan kami beradu, spontanitas Ega langsung bilang teteh, dia menyalami saya, dan mamah, mamah apakah ini benar mamah? Yah benar ini adalah mamah, tak peduli dengan situasi disitu saya tarik tangan mamah dan menciumnya, dan pelukan hangat. Kalau di filem kaya adegan siapa ya?? Begitulah haru…
Saya mengajak mamah duduk dibangku, saya bingung menjelaskannya, saking bahagia, tapi sedih juga iya. Terlebih mamah bilang neng, maaf mamah tidak bisa lama-lama, mamah harus cepat naik bis, mamah mengejar waktu ke bandara. Ya ampun sedih banget itu rasanya, hanya sebentar sekali… sekali,, dan amat sebentar seklai. Dua tahun dibalas dengan hitungan menit.
Mamah, teteh juga kepengen ikut dengan memasang wajah memelas. Neng sayang, sabar ya, suatu saat nanati neng boleh nyususl ko. Tapi tidak sekarang. Ya udah anter mamah yuk nyari bis. Hiks,, hiks,, kalau boleh saya ingin nangis sejadi-jadinya, tapi malau. Jadi saya tahan nih air mata supaya ga jatuh. Dan supaya meyakinkan mamah bahwa saya baik-baik saja. Bahwa saya tegar. Bahwa gadis yang tangguh (pura-pura kuat).
Baiklah demi rasa cinta dan sayang saya, juga tanda bakti anak kepada orang tua, mungkin inilah yang bisa saya lakukan. Saya mengantar mamah mencari bis, sebelumnya kami, kami itu ada Ega, Ega adik saya, saya, dan mamah saya, mencari informasi bis yang langsung ke bandara. Tapi sayangnya kata para petugas tidak ada. Ada juga bis yang nayampe terminal kampung rambutan, dari situ naik damri baru deh nyampe ke bandara.
Saya duduk disamping Ega adik saya, jadi nanti ketika mobil akan berangkat, saya turun. Aduh nohok kana dada. Ada banyak hal yang saya ingin cerita kepada mamah, pokonya saat itu saya ingin Allah memeberhentikan waktu sesaat. Tapi imposible banget. Ucapan saya saya ulangi “mamah, teteh ingin ikut juga”, dan jawaban yang sama “tidak sekrang sayang, nanti ya”. Saya kira kalimat mamah sudah selesai ternyata belum, ada beberapa kata yang digantungnya. Kemudian, ya sudah neng, anterin mamah sama Mega sampai kampung rambutan, bagaimana?? Wooowww tawaran yang azip ini. heum,, mah beneran teteh boleh nganterin mamah sampai Jakarta? Iya. Tapi bagaimana ya nanti neng pulangnya. Ah gampang mah, jangan khawatir teteh bisa pulang sendri (sambil meyakinkan hati), karena saya juga ragu. Pasalnya saya tak pernah pergi jarak jauh seorang diri.
Kembali dengan kesadaran saya, bahwa niat saya hanya sampai terminal Tasik, bukan terminal kampung rambutan. Karena saya tak bawa persiapan semacam baju ganti, sikat gigi, facial foam,, itu berarti saya ragu untuk ikut  sampai Jakarta. Sebentar, bukankah ini tantangan??? Nanti saya bisa mencoba pulang sendirian? Dan itu jarang saya lakukan, nyaris tidak pernah.
Sayapun sepkat ikut. Tapi bagaimana temen-temen di pondok pasti mereka cemas kalau-kalau saya tak kunjung pulang, juga bagaimana dengan tugas saya mengajar di TKA. Aduh jadi andilau (anatra dilemma dan galau). Urusan belakangan tegas hati saya. Dan hal yang saya lakukan adalah menguhubungi ummi menggunakan hape mamah.
Terhubung dengan ummi, ummi kaget juga, banyak pesannya untuk saya, salah satu yang paling utamanaya adalah jangan tinggalkan shalat, juga jaga diri baik-baik, jangan inilah, jangan itulah, banyak. Itulah saking syangnya ummi terhadap saya. Asyek. Saya juga bilang kepada ummi, maaf jika tidak bisa di hubungi, karena hape mati. Ummi smpat mengeluhkan itu, tapi ummi yakin dan percaya kepada saya. Sudah begitulah cukup.
Kini bis meluncur, mulai meninggalkan terimal indihiyang tasikmalaya. Melaju dan terus melaju,,, sepanjang perjalanan mamah terlelap tidur juga Ega, sementara saya melek, saya kira saya dapat berbicara banyak hal dengan mamah, tapi tidak. Saya justru malah kasian liat mamah yang kelelahan, pulang pergi Bangka – Tasikmalya, itu jarak yang lumayan jauh lho, dan perjalanan yang melehakan. Baikalah saya membiarkan mamah tertidur, sementara saya menikamati perjalanan saya, pandangan saya terus saya focus ke kaca, melihat pemandangan yang saya lewati. Ya dari pada saya melihat video clip dangutan yang sama sekali menurut saya ngga banget! Lagu-lagunya aja ga enaklah buat seumuran saya.
Malangbong istirahat. Mamah terbangun, kami turun dulu, sekalian katanya mamah ingin beli oleh-oleh buat ibu kontrakan, juga Ega yang ingin cepat-cepat ke toilet kepnegn pipis katanya. Mamah mulai mengajak saya makan, tapi saya tidak lapar, meskipun tadi pas berangkat saya belum amakan apa-apa… setelah dirasa cukup, dan mobil kembali bangkit dariistirahatnya, melanjutkan perjalanan..
TERMINAL KAMPUNG RAMBUTAN, si kenek mulai membangunkan para penumpanganya, ya barangkali ada yang tertidur, karena perjalanan tadi hujan, so aziplah buat bobo. Semua turun tapi tunggu ada yang tidak turun, itu supirnya tidak turun heu,,heu..
Saya ikut turun dan mengekor langkah mamah, hawa panas menyergap wajah saya yang sedari tadi adem karena AC, tapi itu membuat saya buru-buru beli paying karena takut dengan sinar UV. Langkah mamah semakin cepat menuju Damri, petugas langsung menyuruh mmah masuk, duh kasian mamah, samapi-sampai saya tak sempat salaman atau sekedar say good bye… saya hanya memandang dari luar,, menatapnya dalam, dalam sekali, sekali dalamnya..sementara itu mata saya tak mampu membendung air mata, karena takut ada yang melihat, saya buru-buru tutup dengan telapak tangan saya. Damri melaju, sampai hilanag tak terjamah mata saya lagi.

Bukan radar neptunus tapi radar  tenggek (siput) Part 2

Kini saya seorang diri. Tujuan selanjutnya saya adalah ke toilet, kemudian cari makan karena dari pagi saya belum makan, oh ya, saya tiba di kampung rambutan itu pukul 2 siang. Dan tujuan selanjutnya warnet, kenapa warnet, saya ingin memberi kabar sahabat saya Zulf lewat FB. Memulai tujuan, malah celingukan, bingung tolietnya dimana, saya sudah tak tahan ingin cuci muka yang sudah berasa kusam, kucel in the kummel saya berjalan perlahan ingin memasuki kawasan terminal, tapi tidak tahu jalannya, akhirnya saya melihat kerumunan yang melaju kearah dalam, sayapun ikut-ikutan dan ternyata memang benar. Sampai dalam semua berpencar, lagi-lagi saya sendiri. “mau kemana mba?” seorang laki-laki tua bertanya kepada saya, saya menebak dia itu adalah calo, saya bilang mau ke Ciamis (padahal saya baru saja turun dari mobil).
“ayo mobilnya akan segera berangkat”
“maaf pak, sepertinya saya tidak mau naik sekarang mau nanti saja” tegas saya, lantas saya meninggalkan tu bapak-bapak. Saya langsung masuk, eh saya malah dicegat petugas.
“maaf de bayar dulu”
“bayar apa ya pak?” saya bingung..
“bayar kontribusi” hah semakin ga ngerti, apa emang ini karena di Jakarta yang kata orang-orang tetangga saya, katanya Jakarta ga ada yang gratis, semuanya harus bayar. Uh padahal saya keluar masuk terminal ciamis belum pernah bayar, kecuali saya pernah di minta bayar es cendol di terminal, ya iyalah kan beli jadi harus bayar he,,,
“ouh, berapa pak?” sembari saya membuka tas mencari uang receh.
“seribu rupiah” kaget, saya kira gope. Tapi uang gope di jakarta ga ada artinya, pengamen saja agak manyun dikasih gopemah.
“ini pak” saya mengeluarkan uang satu lebar dua ribu rupiah, karena saya juga termasuk tipe orang yang ga mau di ajak rebut soal bayar mebayar, saya menyeloyor saja pergi tanpa menunggu kembaliannya, tapi ternyata petugas itu menahan saya memberikan kembalian, ah padahal saya tidak terlalu berharap dengan kembalian uangg itu. Tapi kalau dikasihmah terima sajalah..
Pandangan saya mengedar keseluaruh penjuru tempat juga kepada orang-orangan yag lalu lalang, juga yang berdiri tegak, tidak tegak juga ada, juga kepada orang-orangan yang duduk, juga ternyata ada yang sedang siaran langsung (nyari-nyari kutu dikepala manusia), ga nyangka, satu kepala di kerubuni dua orang. Itu semua ibu-ibu yang saya menebak adlah orang sana yang nyari duit disana, atau juga bukan orang sana ynga mencari duit disana, entahlah saya rasa ga terlalu penting untuk saya.
Saya mencari tempat duduk yang tidak begitu ramai, dan juga kalau bisa yang ada tulisannya CIAMIS, ada juga tapi weleh-weleh ga ada tempat duduknya, Cuma tulisan aja. Baiklah sayapu dududk di jalur SUKBUMI padahal saya ga mau ke sukabumi. Ingat dengan tujuan saya ke toilet, tapi dimana toilet saya tidak tahu, kalau bertanya saya termasuk tipe orang yang agak malu juga,” malu bertanya sesat ke toilet” begitulah jadinya.
Wal hasil saya masih duduk, dengan mata terus berjaga-jaga, karena kata para tetangga saya dahulu di jakarta itu harus hati-hati. Tiba-tiba seorang pemuda wajahnya lumayan cakeplah disbanding si bapak-bapak yang sedang nyapu disana he,,he,,. Wah dia mengahampiri saya dan ditanganya membawa banyak jam tangan. “mau pamer kali ya tu orang, mentang-mentang hidpu di Jakarta” (pikir saya).
“de jam tangannya” ramah
Jam tangan? Saya tidak merasa kehilangan jam tangan persaaan, karena saya tidak mengenakan jam tangan.
“ini de bagus lho, harganya Cuma 20 ribu saja” ha,ha, ternyata tukang jualan jam toh, tau saja kalau saya tidak jam tangan.
“tidak,” jawab saya disertai geleng-geleng kepala, kaya anak kecil yang susah di kasih makan sama ibunya.
“kalau tidak jam ini saja de, buat ngecas HP, jadi ade tak usah ngecas lewat listrik” ah lagi-lagi tau kalau HP saya mati, tapi saya masih pikir-pikir untuk membelinya.
“de, lihat deh jamnya lucu lho, cocok buat ade” lagi-lagi hanya menggeleng.
“ade dari jawa?” mungkin pensaran cowok ini.
“bukan”
“sunda ya?”
“ya” baru deh saya jawab ya. Saya memang aneh sama orang ini, logantanya logat jawa. Ah masa bodo mau dia dari Jawa atau bukan, mau dari London pun saya tak peduli. Akhinya saya mulai puny aide untuk menghindar dari pedagang jam tangan.
“maaf mas toilet dimana ya?”
“di sebelah sana de, lurus saja” tangannya menunjukan arah.
“ouh makasih mas”
“mau dianatar de” widih guilla nih orang masa mau nganter saya, huh dasar cowok. Saya biarkan saja tak menjawabnya, dan saya jalan mengikuti petunjukknya.
Waduh toiletnya campur, cowok cewek seabrekin, ih jadi risish. Tapi rasanya penampilan saya cukup meyakinkan, cowok-cowok yang ada disana langsung menghindar seperti member jalan dan seolah-olah berkata “silahkan nona”, ha,,ha,, yupz saya diberi jalan masuk toilet.
Tes,,, dingin membasahi wajah saya yang mulai tersa semakin memanas dari tadi,, adem terasanya, sejuk pokonya enaklah. Lantas saya selesai dan membuka pinytu untuk keluar, waduh bayar lagi dua ribu, harga yang lumayan mahal buat saya yang biasa ngasih ke toilet mesjid  Ciamis salawasasna. Inimah ga bisa ndak kudu bayar segitu, kalau tidak apa yang akan terjadi? Gadai KTP, ah ga laku.
Tujuan saya selanjutnya  adalah mencari makan, tapi saya rasa lebih aman cari makan ditempat yang tadi, didalam terminal ada banyak warung-warungan yang menawarkan makanan. Saya cepat ke tempat tadi dimana saya duduk, wah sayangnya sudah ada orang-orang, jadi saya cari tempat yang lain.
Tempat duduk yang lumayan nyaman dari pada yang tadi, sembari saya bermain mata mencari-cari tempat makan, melihat banyaknya manusia yang berada di warung-warung sana membuat saya mager banget. Juga entah faktor malu atau gengsi, pokonya saya lebih memilih diam saja. Sesaat dalam diam, tiba-tiba pedagang yang berbeda dengan tawaran yang sama datang, itu penjual jam tangan. Ternyata penjual jam tangan yang berkeliaran disekitar saya itu terhitung ada lima orang. Oke kelar urusan dengan para penjual jam tangan, saya kira taka nada lagi yang akan menghampiri saya. Ternyata pedagang jeruk PONTIANAK yang katanya terkenal dengan rasa manisnya, heum saya kira itu jeruk KUNTILANAK, habisnya saya sebel sama si penjulanya.
“neng jeruk” mengasongkan jeruknya ke muka saya, saya hanya menggelengka n kepala menandakan saya tidak mau.
“neng jeruknya manis” tdak patah semangat dia terus saja menawarkan jeruknya. Dan saya masih melakukan hal yang sama hanya menggelengkan kepala. Sengaja saya begitu, saya sedang tak ingin banyak bicara.
“neng sendiri saja, sudah kawin?” berani sekali si mamang ini. dan tahu apa yang saya lakukan, saya masih menggelengkan kepala saya.
“neng saya juga ada jenggotnya nih, jangan sendirian wae atuh, nikah sama saya saja neng”  amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittt pokonya amit-amit deh, dasar nih orang punya jenggeot yang menyeramkan juga belagunya segede alihum gambreng! dia pikir saya tertarik apa sama jenggiotnya itu, huh kalau saja dia tahu saya lebih tertarik dengan jenggeot yang seuprit meskipun tiga lembar, pati dia bakalan lari dulu menjem gunting ke warung cukur tu jenggotnya hae,,he,,, dan saya  Masa bodo seberapa kali kepala saya menggeleng-menggelng. Pokonya saya sedang mogok bicara. Saya sedang menghemat energy, coz belum makan.
Sepeninggal penjual jeruk berlalu dari hadapan saya, pedagang lain datang, pedagang anggur, yang membuat saya hampir terperanjat dari duduk. Dia menawarkan anggur yang manisnya katanya banget-banget, saya kira dia hanya menwarakan itu saja, ternyata tidak juga, dia memperlihatkan giginya yang ompong disebelah kanan, ah begitu detailnya saya, tapi itu sangat jelas sekali. Sembari tersenyum entahlah saya tidak tahu maksud dari giginya yang  ompong, apa disengaja atau tidak saya tidak mau tahu. Tapi saya juga manusia yang memiliki belas kasihan, meski saya tidak membelinya saya sekarang menjawabnya dengan senyuman disertai gelengan kepala, tapi saya tidak separah penjual anggur tadi dengan memamerkan gigi, tidak..
Waktu terus berjalan tanpa henti, berbeda dengan saya yang masih terpaku, saya ingat mamah tadi sewaktu beliau turun dari bis, bahwa saya harus cepat-cepat pulang jangan dulu mampi sana-sini. Dan katanya itu kalau mau pulang saya naik mobil bis yang jurusan jakarta-banjar. Tapi yang melewati jalur tol. Huh padahal saya ingin pulang melewati jalur puncak,, betapapun saya ngotot saya pasti akan turut mamah tersayang, yakin bahwa apa yang beliau sarankan itu adalah yang terbaik untuk saya.
Kini dua lelaki paruh baya datang dengan kepayahan mereka bersama beban yang dipanggulnya, saya kira itu adalah milik tiga wanita yang membuntut dibelakangnya, lumayan banyak sekali bawaanya, mungkin pindahan, mungkin juga penjual pakaian, mungkin juga titipan di kampung, mungkin dan banyak seklai kata mungkin yang saya tuangkan. Kemungkinan-kemungkinan itu justru malah menjadi sesuatu yang saya harpkan.
Tiga wanita itu duduk selang satu bangku kosong dengan saya, otomatis perbincangan mereka terdengar keras ditelinga saya, secara saya tidak tuli, mereka membeicarakan mobil yang hendak mereka tumpangi, dan mereka akan, pulang ke banjar. Ide saya muncul, aha bagaimana kalau saya berbincang dengan mereka dan pulang bareng dengan mereka, biar saya merasa tak sendirian.
Tapi ingatan saya masih jelas sangat, inget kata ummi hatihad-hati kepada orang yang baru dikenal. Saya urungkan kembali niat itu, dan saya mencoba meyakinkan diri saya bahwa saya baik-baik saja nantinya, juga taka nada sesuatu apapun yang akan terjadi.
Waktu sudah menunjukan pukul dua siang lewat empat puluh menit, dan itu pula artinya sudah hampir satu jam saya berada di terminal ini. saya mulai berpikr mungkin alangkah baiknya saya pulang sekararang, takut kemelaman sampai kamar. Dan untuk apa juga saya lama-lama disini tanpa arah dan tujuan yang jelas, hanya akan menambah sesak jakarta. Sudahmah penduduknya tiap tahun makin bertambah.
Mobil jurusan banjar sudah nampak didepan mata, ah saya yakin saya akan pulang sekarang, belum saya beranjak saya seperti melihat seseorang yang saya kenal, saya yakinkan kembali mata ini, tidak salah lagi saya mengenalnya, ternyata saya lupa dimana sekarng saya berada, saya langsung alari dan menyebut namanya “A Zarrrr…..” betapa orang-orang yang ada disitu dibuat kaget oleh saya, saya tak memperdulikan, tak peduli untuk kesekian kalinya, dan saya juga tidak kembali menmegok ke belakang biarkanlah saya meninggalkan tanda tanya kepada mereka yang melihat saya aneh.
“Zona!” A Zar tak dapat menyembunyikan wajah keherannanya, A Zar tak sendirian, dia berlima, yaitu Zam adik bungsunya, Awi kakaknya, Mang Den penjaga sekolah, dirinya dan satu lagi saya tak mengenalnya. Zam ikut heran mendapati saya berada di terminal nan jauh dari tempat tinggal.
“kamu ngapain disini, dengan siapa,?” masih mimik wajah yang sama Zar bertanya kepada saya.
“sendiri, nanti saya ceritanya, tapi apa boleh saya ikut pulang bersama?” dengan wajah sumringah, saya merasa radar saya semakin kuat, ya radar saya lebih kuat dari radar tadi sewaktu ditasik menemukan mamah.
“ya boleh” Zar mempersilahkan saya berjalan terlebih dahulu. saya mengikuti langkah Awi Kakak Zar, ternyata naik bis yang dari tadi saya pandangi, saya kira banyak orang, tapi tidak, dan saya melihat orang sudah ada didalam saya tak mengenalnya satupun. Saya baru ingat kenapa saya bisa bertemu dengan orang-orang sepondok ini, mereka baru saja mengantar Kiayai dan anak serta kelompok umrohnya dari bandara. Ah seandainya tadi saya ikut mengantar mamah ke bandara mungkin saya tidak akan bertemu dengan mereka.
“Zona, cerita kenapa kamu biusa ada disini” Zar menagih janji saya yang akan cerita saya ada disni setelah anati didalam mobil. Pendek cerita Zar tahu alasan saya ada disni. Dan sekarang saya yang heran kepada Zar dan yang lainnya, kenapa tidak dengan mobil rombongan??
Saya dapat tempat duduk dibelakang Zar, sendiri ya masa bersama mereka, kan mereka semua laki-laki. Tapi Mang Den duduk disebelah saya, masih penasaran dengan saya. Saya ceritakan lagi untuk kedua kalinya, setelah tadi saya cerita kepada Zar. Ke Mang Den saya lebih bertanya kenapa Zar dan mang Den ada disini belum pulang.
“rombongan yang mengantar umroh kemarin juga langsung pulang, sementara kami tidak, Zar, Awi, Zam menginap di hotel dan saya menginap di bandara, karena Kiayai dan rombongan take off nya tadi pukul satu siang” begitu mang Den ,menjelaskan. Ouuhhh mulut saya membentuk hurup O bulat, meski ga amat-amat bulat.
Mang Den berlalu dari sampig saya, dia duduk dibagian depan sekali, sementara saya sendidri, tadi mang Den semoat menyakan saya sudah amakan apa belum, saya jawab jujur saja belum. Bukan berarti saya mau di traktir ko, tidak sama sekali, akrena saya juga punya nuang, hanya saja saya males untuk membelinya.
Mobil melaju, saya mengambil buku Angry Bird dan pulpen Angry Bird juga, saya catat apa yang hari ini saya alami. Tulisannya sedikit berantakan, karena mobil juga goyang-goyang. Dan begitulah critanya, “dan radarku menemukan jalan pulang”..


SEKIAN


Jalan daerah Bandung, Rabu 17 Januari 2013
Satu hari sebelum Jakarta banjir bandang…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar