Percaya ga
percaya radar ini menemukan jalannya,,,
Darimana
saya harus bercerita? Apa dari “syndrome perahu kertas dengan radar
neptunusnya???” tak usah rasanya terlalu jauh untuk itu. Bukan, ini radar
cinta, azip plus lebay..
Kabar pulang itu..
Hari
Minggu mamah memberi tahu saya bahawa beliau akan pulang ke kampung halaman.
Heum ada yang tahu apa yang saya rasakan saat mendengar itu??? Bahagia, yupz,,
karena apa? Karena saya akan berjumpa dengannya dan itu mencairkan rindu saya
yang lama membeku dihati.betapa tidak, dua tahun saya tidak berjumpa dengan
mamah tercinta, ya saya bertemu dengan mamah itu dulu di mesjid agung Sukaraja – Tasikamlaya. Itupun hanya
sebentar, sekitar sepuluh menit. *sambil curhat nih ceritanya, he,,,he..* heum
jadi memutar balik masa lalau, oke saya kembali ke cerita mamah saya pulang.
“neng,
mamah hari selasa sudah ada dirumah, tapi hari rabunya mamah berangkat lagi ke
Bangka” Gleeekkkk!! Terasa keselek jadinya. Oalah sebentar sekali. Gimana saya
bisa kangen-kangenan sama mamah kalau sebentar, tapi saya kembali sadar ini
kenyataan, pahit manis harus saya terima. Itu berarti saya harus memanfaatkan
waktu sebentar itu untuk bertemu, memeluk, mencium mamah. (kayak ke bayi aja
heu,,).
Dan
eng ing eng saya akan mengajak sahabat saya Zulf untuk menemani saya menemui
mamah. Rencana punya rencana ya namanya juga rencana manusia, Allah lah yang
berkehendak. Lantas apa yang terjadi?? Ga usah panic, tidak ada apa-apa ko.
Celius. Jadi begini, saya dan Zulf tidak jadi ke Tasik pada hari yang sudah
ditentukan itu, ada dua faktor alasan.
1. Saya
dan mamah saya tiba-tiba kehilangan kontak. No hp mamah tidak aktif.
2. Zulf
sakit, dan ummi menjemputnua pulang,
Saya pun hanya
bisa berdendang “sendiri lagi seperti dahulu tanpa dirimu disisiku..” galau
menghinggapi tempurung hati saya, ko jadi tempurung hati ya, bukan tempurung
kepala. Biarlah saya ingin menulis begitu. Bebas inikan. Selanjutnya apa yang
saya takutkan terjadi, airmata, ya air mata menetes juga.. berdampak pula
dengan FB saya yang isi statusnya galau-galau ria.tangisnya sampai tak
henti-hentinya mengalahkan hujan sore itu (berlebihan).. tidak sampai begitu
juga kali..
Hari selasa sore
harinya mamah tercinta, yupz tercinta meskipun saya sempet kesel juga. Begini
katanya: mamah besok ingin berjumpa dengan anak gadisnya yang paling cantik di
terminal Tasik sebelum pergi lagi ke Bangka. Setelah tahu demikian adanya
sayapun harus cancel tugas saya ke sekolah, saya izin untuk hari rabu tidak
masuk.
***
Saya melirik jam
yang menempel di dinding kamar, yang
berdentang tak bersuara, ini memang tidak salah, suaranya kalah dengan berisik
anak-anak bacotil (barudak cobonk tilu). Pukul enam lewat lima belas menit,
masih ada waktu untuk siap-siap, kemudian saya ingin mengecek alat komunikasi
saya yang saya pinjam dari Ai, karena hp saya mati. Tapi trenyata Ai sudah mengambilnya, ya namanya juga pinjem, makasih ya Ai he,,
and saya ngahuleng??? Terus bagaimana saya menghubungi mamah?? Ga mungkin juga
kan saya mamanggul seeng ha,,ha,,
Bu De pencetus
ide berlian, maksud saya brilian, dia menyarankan saya untuk meminjam hape Yuri,
kenapa juga saya berani? Ya karena Yuri punya dua.mlau sih malu tapi lagi
butuh. Sesame muslim harus saling membantu “dalil penguat agar dikasih pinjem”
maksa.com jadinya.. dan Yuri yang baik hati berkata iya the boleh, tapi maaf
setiap setengah jam sekali harus di cas. Waduh, tapi tak apalah yang penting
saya nanti bisa menghubungi mamah, kalau sudah bertemu kan kelar urusan, saya
langsung pulang lagi ini. begitu pikir saya.
Antara Ciamis - Tasikmalaya
Waktu menunjukan
pukul tujuh, entah lebih berapa, entah kurang berapa entah pas, tapi saya hanya
menyebutnya pukul tujuh saja. Di ulangi lagi pukul tujuh pagi hari rabu 17 januari
2013 saya bernama Zona Red sudah nongkrong diterminal Ciamis sedang menunggu bis jurusan Tasikmalaya. Tak perlu
menunggu waktu lama, bis sudah meluncur, sayapun langsung naik. Mencari tempat
duduk yang sekiranya aman dan nayman. Beruntung bis masih belum penuh jadi saya
bisa memeilih tempat duduk dan saya memilih di dekat jendela, sengaja biar bsa
memandang ke luar. Tempat duduk samping saya masih kosong, saya berharap
jikapun ada yang duduk nantinya semoga saja wanita, terlepas dari itu mau
ibu-ibu, nenek-nenek, remaja ataupun anak-anak. Ya saya lebih baik duduk
bersebelahan dengan nenek-nenek ketimbang duduk dengan seorang pemuda. Bukan
apa-apa takut kesetrum. Heu.. heu.. kaya listrik aje ye..
Tak lama
kemudian bis melaju, setelah bis melaju agak menjauh dari terminal Ciamis,
tiba-tiba bis itu ada yang memberhentikan. Jelaslah kan ada penumpang yang mau
naik. Kirain satu orang ternayata lumayan banyak juga, jadi itu bis penuh, dan
jadilah seorang bapak-bapak duduk disamping saya. Heum, saya langsung pasang
ciput jaket, menutupi wajah saya. Bukan apa-apa juga sih, Cuma lagi ga mau di
ajak bicara. Takutnya entar si bapak-bapak itu najak saya ngobrol.
Dirasa-rasa
tidak nyaman juga saya, dibukalah si ciputnya, saya membuka wajah saya, dan si
bapak menoleh. Seperti apa saya prasangkakan sebelumnya. Si bapak mulai
bertanya tujuan saya mau kamana, kemudian dia ngurusin ongkos bis yang mahal.
Setelah itu dia menyangka saya anak SMA, eum itu sih semenjak saya kuliah saya
itu pastinya disangka anak SMA. Dan itu sampai sekarang saya tingkat tiga.
Tidak berubah masih disangka anak SMA. Entah melihat dari tubuh saya yang
mungil? Atau wajah saya yang imut (maunya), tapi saya tidak tersinggung, toh
sudah biasa.
Saya menjawab
jujur saja, bahwa saya kuliah. and dia pun bercerita tentang dirinya yang
dahulu sekolah di SMPnya. Setelah itu dia (bapak-bapak) menyakan asal saya dari
mana. Saya jawab juga dari Ciamis. Dan saya bisa pastikan bapak itu tidak tahu
daerah Ciamis, karena logat bicaranya yang seperti jawa, serta bahsa sunda yang
kasar.
Prediksi saya
salah, ternyata dia itu juga orang Ciamis tepatnya di Jellat yang deket dengan
Baregbeg, yang deket dengan Universitas Galuh. Ah saya males menanggapainya,
jadi saya bilang saja saya kurang tahu daerah Ciamis (faktanya demikian), ya
saya hanya tau daerah tempat-tempat tertentu saja.
Mobil semakin
menjauh, tak terasa sudah memasuki Tasikmalaya. Saya mulai was-was, saya kirim
pesan kepada mamah, tapi tak ada balasannya. Saya dan mamah sudah janjian di
terminal Tasik, tapi kata si bapak-bapak itu, kalau tujuan ke Jakarta biasanya
langsung di PO nya, sedangkan PO nya sudah terlewat. Tapi saya sudah yaklin,
saya akan bertemu dengan mamah diterminal.
Si bapak itu
tidak yakin kepada saya, dia meragukan saya. Ah masa bodo, toh saya yang mau
menjalaninya ko. Bis berhenti di terminal dan semua penumpang turun termasuk
saya dan bapak-bapak itu. Saya mengambil langkah terlebih dahulu darinya, tapi
dia mengikuti saya.
GEER ha,,ha,,
kan sama tujuannya terminal ngapaian berasa di ikuti segala ya. Ah dasar Zona
jadi paranoid deh. Ada bangku kososng saya langsung duduk saja sembari saya
ingin tsms mamah lagi, hanya untuk menegaskan dan meyakinkan. Tapi duh gusti
hape saya mati (maksudnya hape pinjeman). Dan saya tak tahu apa mamah sudah
sampai dan belum, apa jadi bertemu atau tidak…
Bukan radar neptunus tapi
radar tenggek (siput) Part 1
Saya mulai
bangkit dari tempat duduk dan mulai berjalan, saya teringat filem perahu kertas
I Kugy yang menemukan Keenan dengan radar neptunusnya, dengan ciri khasnya,
angkat dua telunjuk ke atas kepala. Dan hati saya mengikuti itu, tapi bedanya
telunjuk tangan saya tidak di acungkan. Saya masih punya rasa malu jika saya
berbuat aneh seperti itu.
Saya terus jalan
lurus, rupanya radar saya kuat, mata saya langsung menenagkap Ega, pandangan
kami beradu, spontanitas Ega langsung bilang teteh, dia menyalami saya, dan
mamah, mamah apakah ini benar mamah? Yah benar ini adalah mamah, tak peduli
dengan situasi disitu saya tarik tangan mamah dan menciumnya, dan pelukan
hangat. Kalau di filem kaya adegan siapa ya?? Begitulah haru…
Saya mengajak
mamah duduk dibangku, saya bingung menjelaskannya, saking bahagia, tapi sedih
juga iya. Terlebih mamah bilang neng, maaf mamah tidak bisa lama-lama, mamah
harus cepat naik bis, mamah mengejar waktu ke bandara. Ya ampun sedih banget
itu rasanya, hanya sebentar sekali… sekali,, dan amat sebentar seklai. Dua
tahun dibalas dengan hitungan menit.
Mamah, teteh
juga kepengen ikut dengan memasang wajah memelas. Neng sayang, sabar ya, suatu
saat nanati neng boleh nyususl ko. Tapi tidak sekarang. Ya udah anter mamah yuk
nyari bis. Hiks,, hiks,, kalau boleh saya ingin nangis sejadi-jadinya, tapi
malau. Jadi saya tahan nih air mata supaya ga jatuh. Dan supaya meyakinkan
mamah bahwa saya baik-baik saja. Bahwa saya tegar. Bahwa gadis yang tangguh
(pura-pura kuat).
Baiklah demi
rasa cinta dan sayang saya, juga tanda bakti anak kepada orang tua, mungkin
inilah yang bisa saya lakukan. Saya mengantar mamah mencari bis, sebelumnya
kami, kami itu ada Ega, Ega adik saya, saya, dan mamah saya, mencari informasi
bis yang langsung ke bandara. Tapi sayangnya kata para petugas tidak ada. Ada
juga bis yang nayampe terminal kampung rambutan, dari situ naik damri baru deh
nyampe ke bandara.
Saya duduk
disamping Ega adik saya, jadi nanti ketika mobil akan berangkat, saya turun. Aduh nohok kana dada. Ada banyak hal
yang saya ingin cerita kepada mamah, pokonya saat itu saya ingin Allah
memeberhentikan waktu sesaat. Tapi imposible
banget. Ucapan saya saya ulangi “mamah, teteh ingin ikut juga”, dan jawaban
yang sama “tidak sekrang sayang, nanti ya”. Saya kira kalimat mamah sudah
selesai ternyata belum, ada beberapa kata yang digantungnya. Kemudian, ya sudah
neng, anterin mamah sama Mega sampai kampung rambutan, bagaimana?? Wooowww
tawaran yang azip ini. heum,, mah beneran teteh boleh nganterin mamah sampai
Jakarta? Iya. Tapi bagaimana ya nanti neng pulangnya. Ah gampang mah, jangan
khawatir teteh bisa pulang sendri (sambil meyakinkan hati), karena saya juga
ragu. Pasalnya saya tak pernah pergi jarak jauh seorang diri.
Kembali dengan
kesadaran saya, bahwa niat saya hanya sampai terminal Tasik, bukan terminal
kampung rambutan. Karena saya tak bawa persiapan semacam baju ganti, sikat gigi,
facial foam,, itu berarti saya ragu untuk ikut
sampai Jakarta. Sebentar, bukankah ini tantangan??? Nanti saya bisa
mencoba pulang sendirian? Dan itu jarang saya lakukan, nyaris tidak pernah.
Sayapun sepkat
ikut. Tapi bagaimana temen-temen di pondok pasti mereka cemas kalau-kalau saya
tak kunjung pulang, juga bagaimana dengan tugas saya mengajar di TKA. Aduh jadi
andilau (anatra dilemma dan galau). Urusan belakangan tegas hati saya. Dan hal
yang saya lakukan adalah menguhubungi ummi menggunakan hape mamah.
Terhubung dengan
ummi, ummi kaget juga, banyak pesannya untuk saya, salah satu yang paling
utamanaya adalah jangan tinggalkan shalat, juga jaga diri baik-baik, jangan
inilah, jangan itulah, banyak. Itulah saking syangnya ummi terhadap saya.
Asyek. Saya juga bilang kepada ummi, maaf jika tidak bisa di hubungi, karena
hape mati. Ummi smpat mengeluhkan itu, tapi ummi yakin dan percaya kepada saya.
Sudah begitulah cukup.
Kini bis
meluncur, mulai meninggalkan terimal indihiyang tasikmalaya. Melaju dan terus melaju,,,
sepanjang perjalanan mamah terlelap tidur juga Ega, sementara saya melek, saya
kira saya dapat berbicara banyak hal dengan mamah, tapi tidak. Saya justru
malah kasian liat mamah yang kelelahan, pulang pergi Bangka – Tasikmalya, itu
jarak yang lumayan jauh lho, dan perjalanan yang melehakan. Baikalah saya
membiarkan mamah tertidur, sementara saya menikamati perjalanan saya, pandangan
saya terus saya focus ke kaca, melihat pemandangan yang saya lewati. Ya dari
pada saya melihat video clip dangutan yang sama sekali menurut saya ngga
banget! Lagu-lagunya aja ga enaklah buat seumuran saya.
Malangbong
istirahat. Mamah terbangun, kami turun dulu, sekalian katanya mamah ingin beli
oleh-oleh buat ibu kontrakan, juga Ega yang ingin cepat-cepat ke toilet kepnegn
pipis katanya. Mamah mulai mengajak saya makan, tapi saya tidak lapar, meskipun
tadi pas berangkat saya belum amakan apa-apa… setelah dirasa cukup, dan mobil
kembali bangkit dariistirahatnya, melanjutkan perjalanan..
TERMINAL KAMPUNG
RAMBUTAN, si kenek mulai membangunkan para penumpanganya, ya barangkali ada
yang tertidur, karena perjalanan tadi hujan, so aziplah buat bobo. Semua turun
tapi tunggu ada yang tidak turun, itu supirnya tidak turun heu,,heu..
Saya ikut turun
dan mengekor langkah mamah, hawa panas menyergap wajah saya yang sedari tadi
adem karena AC, tapi itu membuat saya buru-buru beli paying karena takut dengan
sinar UV. Langkah mamah semakin cepat menuju Damri, petugas langsung menyuruh
mmah masuk, duh kasian mamah, samapi-sampai saya tak sempat salaman atau
sekedar say good bye… saya hanya
memandang dari luar,, menatapnya dalam, dalam sekali, sekali
dalamnya..sementara itu mata saya tak mampu membendung air mata, karena takut
ada yang melihat, saya buru-buru tutup dengan telapak tangan saya. Damri
melaju, sampai hilanag tak terjamah mata saya lagi.
Bukan radar neptunus tapi
radar tenggek (siput) Part 2
Kini saya
seorang diri. Tujuan selanjutnya saya adalah ke toilet, kemudian cari makan
karena dari pagi saya belum makan, oh ya, saya tiba di kampung rambutan itu
pukul 2 siang. Dan tujuan selanjutnya warnet, kenapa warnet, saya ingin memberi
kabar sahabat saya Zulf lewat FB. Memulai tujuan, malah celingukan, bingung
tolietnya dimana, saya sudah tak tahan ingin cuci muka yang sudah berasa kusam,
kucel in the kummel saya berjalan
perlahan ingin memasuki kawasan terminal, tapi tidak tahu jalannya, akhirnya
saya melihat kerumunan yang melaju kearah dalam, sayapun ikut-ikutan dan
ternyata memang benar. Sampai dalam semua berpencar, lagi-lagi saya sendiri.
“mau kemana mba?” seorang laki-laki tua bertanya kepada saya, saya menebak dia
itu adalah calo, saya bilang mau ke Ciamis (padahal saya baru saja turun dari
mobil).
“ayo mobilnya
akan segera berangkat”
“maaf pak,
sepertinya saya tidak mau naik sekarang mau nanti saja” tegas saya, lantas saya
meninggalkan tu bapak-bapak. Saya langsung masuk, eh saya malah dicegat
petugas.
“maaf de bayar
dulu”
“bayar apa ya
pak?” saya bingung..
“bayar
kontribusi” hah semakin ga ngerti, apa emang ini karena di Jakarta yang kata
orang-orang tetangga saya, katanya Jakarta ga ada yang gratis, semuanya harus
bayar. Uh padahal saya keluar masuk terminal ciamis belum pernah bayar, kecuali
saya pernah di minta bayar es cendol di terminal, ya iyalah kan beli jadi harus
bayar he,,,
“ouh, berapa
pak?” sembari saya membuka tas mencari uang receh.
“seribu rupiah”
kaget, saya kira gope. Tapi uang gope di jakarta ga ada artinya, pengamen saja
agak manyun dikasih gopemah.
“ini pak” saya
mengeluarkan uang satu lebar dua ribu rupiah, karena saya juga termasuk tipe
orang yang ga mau di ajak rebut soal bayar mebayar, saya menyeloyor saja pergi
tanpa menunggu kembaliannya, tapi ternyata petugas itu menahan saya memberikan
kembalian, ah padahal saya tidak terlalu berharap dengan kembalian uangg itu.
Tapi kalau dikasihmah terima sajalah..
Pandangan saya
mengedar keseluaruh penjuru tempat juga kepada orang-orangan yag lalu lalang,
juga yang berdiri tegak, tidak tegak juga ada, juga kepada orang-orangan yang
duduk, juga ternyata ada yang sedang siaran langsung (nyari-nyari kutu dikepala
manusia), ga nyangka, satu kepala di kerubuni dua orang. Itu semua ibu-ibu yang
saya menebak adlah orang sana yang nyari duit disana, atau juga bukan orang
sana ynga mencari duit disana, entahlah saya rasa ga terlalu penting untuk
saya.
Saya mencari
tempat duduk yang tidak begitu ramai, dan juga kalau bisa yang ada tulisannya
CIAMIS, ada juga tapi weleh-weleh ga ada tempat duduknya, Cuma tulisan aja.
Baiklah sayapu dududk di jalur SUKBUMI padahal saya ga mau ke sukabumi. Ingat
dengan tujuan saya ke toilet, tapi dimana toilet saya tidak tahu, kalau
bertanya saya termasuk tipe orang yang agak malu juga,” malu bertanya sesat ke
toilet” begitulah jadinya.
Wal hasil saya
masih duduk, dengan mata terus berjaga-jaga, karena kata para tetangga saya
dahulu di jakarta itu harus hati-hati. Tiba-tiba seorang pemuda wajahnya
lumayan cakeplah disbanding si bapak-bapak yang sedang nyapu disana he,,he,,.
Wah dia mengahampiri saya dan ditanganya membawa banyak jam tangan. “mau pamer
kali ya tu orang, mentang-mentang hidpu di Jakarta” (pikir saya).
“de jam
tangannya” ramah
Jam tangan? Saya
tidak merasa kehilangan jam tangan persaaan, karena saya tidak mengenakan jam
tangan.
“ini de bagus
lho, harganya Cuma 20 ribu saja” ha,ha, ternyata tukang jualan jam toh, tau
saja kalau saya tidak jam tangan.
“tidak,” jawab
saya disertai geleng-geleng kepala, kaya anak kecil yang susah di kasih makan
sama ibunya.
“kalau tidak jam
ini saja de, buat ngecas HP, jadi ade tak usah ngecas lewat listrik” ah
lagi-lagi tau kalau HP saya mati, tapi saya masih pikir-pikir untuk membelinya.
“de, lihat deh
jamnya lucu lho, cocok buat ade” lagi-lagi hanya menggeleng.
“ade dari jawa?”
mungkin pensaran cowok ini.
“bukan”
“sunda ya?”
“ya” baru deh
saya jawab ya. Saya memang aneh sama orang ini, logantanya logat jawa. Ah masa
bodo mau dia dari Jawa atau bukan, mau dari London pun saya tak peduli. Akhinya
saya mulai puny aide untuk menghindar dari pedagang jam tangan.
“maaf mas toilet
dimana ya?”
“di sebelah sana
de, lurus saja” tangannya menunjukan arah.
“ouh makasih
mas”
“mau dianatar
de” widih guilla nih orang masa mau nganter saya, huh dasar cowok. Saya biarkan
saja tak menjawabnya, dan saya jalan mengikuti petunjukknya.
Waduh toiletnya
campur, cowok cewek seabrekin, ih jadi risish. Tapi rasanya penampilan saya
cukup meyakinkan, cowok-cowok yang ada disana langsung menghindar seperti
member jalan dan seolah-olah berkata “silahkan nona”, ha,,ha,, yupz saya diberi
jalan masuk toilet.
Tes,,, dingin
membasahi wajah saya yang mulai tersa semakin memanas dari tadi,, adem
terasanya, sejuk pokonya enaklah. Lantas saya selesai dan membuka pinytu untuk
keluar, waduh bayar lagi dua ribu, harga yang lumayan mahal buat saya yang
biasa ngasih ke toilet mesjid Ciamis salawasasna. Inimah ga bisa ndak kudu
bayar segitu, kalau tidak apa yang akan terjadi? Gadai KTP, ah ga laku.
Tujuan saya
selanjutnya adalah mencari makan, tapi
saya rasa lebih aman cari makan ditempat yang tadi, didalam terminal ada banyak
warung-warungan yang menawarkan makanan. Saya cepat ke tempat tadi dimana saya
duduk, wah sayangnya sudah ada orang-orang, jadi saya cari tempat yang lain.
Tempat duduk
yang lumayan nyaman dari pada yang tadi, sembari saya bermain mata mencari-cari
tempat makan, melihat banyaknya manusia yang berada di warung-warung sana
membuat saya mager banget. Juga entah faktor malu atau gengsi, pokonya saya
lebih memilih diam saja. Sesaat dalam diam, tiba-tiba pedagang yang berbeda
dengan tawaran yang sama datang, itu penjual jam tangan. Ternyata penjual jam
tangan yang berkeliaran disekitar saya itu terhitung ada lima orang. Oke kelar
urusan dengan para penjual jam tangan, saya kira taka nada lagi yang akan
menghampiri saya. Ternyata pedagang jeruk PONTIANAK yang katanya terkenal
dengan rasa manisnya, heum saya kira itu jeruk KUNTILANAK, habisnya saya sebel
sama si penjulanya.
“neng jeruk”
mengasongkan jeruknya ke muka saya, saya hanya menggelengka n kepala menandakan
saya tidak mau.
“neng jeruknya
manis” tdak patah semangat dia terus saja menawarkan jeruknya. Dan saya masih
melakukan hal yang sama hanya menggelengkan kepala. Sengaja saya begitu, saya
sedang tak ingin banyak bicara.
“neng sendiri
saja, sudah kawin?” berani sekali si mamang ini. dan tahu apa yang saya
lakukan, saya masih menggelengkan kepala saya.
“neng saya juga
ada jenggotnya nih, jangan sendirian wae atuh, nikah sama saya saja neng” amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittt pokonya amit-amit
deh, dasar nih orang punya jenggeot yang menyeramkan juga belagunya segede
alihum gambreng! dia pikir saya tertarik apa sama jenggiotnya itu, huh kalau
saja dia tahu saya lebih tertarik dengan jenggeot yang seuprit meskipun tiga
lembar, pati dia bakalan lari dulu menjem gunting ke warung cukur tu jenggotnya
hae,,he,,, dan saya Masa bodo seberapa
kali kepala saya menggeleng-menggelng. Pokonya saya sedang mogok bicara. Saya
sedang menghemat energy, coz belum makan.
Sepeninggal
penjual jeruk berlalu dari hadapan saya, pedagang lain datang, pedagang anggur,
yang membuat saya hampir terperanjat dari duduk. Dia menawarkan anggur yang
manisnya katanya banget-banget, saya kira dia hanya menwarakan itu saja,
ternyata tidak juga, dia memperlihatkan giginya yang ompong disebelah kanan, ah
begitu detailnya saya, tapi itu sangat jelas sekali. Sembari tersenyum entahlah
saya tidak tahu maksud dari giginya yang
ompong, apa disengaja atau tidak saya tidak mau tahu. Tapi saya juga
manusia yang memiliki belas kasihan, meski saya tidak membelinya saya sekarang
menjawabnya dengan senyuman disertai gelengan kepala, tapi saya tidak separah
penjual anggur tadi dengan memamerkan gigi, tidak..
Waktu terus
berjalan tanpa henti, berbeda dengan saya yang masih terpaku, saya ingat mamah
tadi sewaktu beliau turun dari bis, bahwa saya harus cepat-cepat pulang jangan
dulu mampi sana-sini. Dan katanya itu kalau mau pulang saya naik mobil bis yang
jurusan jakarta-banjar. Tapi yang melewati jalur tol. Huh padahal saya ingin
pulang melewati jalur puncak,, betapapun saya ngotot saya pasti akan turut
mamah tersayang, yakin bahwa apa yang beliau sarankan itu adalah yang terbaik
untuk saya.
Kini dua lelaki
paruh baya datang dengan kepayahan mereka bersama beban yang dipanggulnya, saya
kira itu adalah milik tiga wanita yang membuntut dibelakangnya, lumayan banyak
sekali bawaanya, mungkin pindahan, mungkin juga penjual pakaian, mungkin juga
titipan di kampung, mungkin dan banyak seklai kata mungkin yang saya tuangkan.
Kemungkinan-kemungkinan itu justru malah menjadi sesuatu yang saya harpkan.
Tiga wanita itu
duduk selang satu bangku kosong dengan saya, otomatis perbincangan mereka
terdengar keras ditelinga saya, secara saya tidak tuli, mereka membeicarakan
mobil yang hendak mereka tumpangi, dan mereka akan, pulang ke banjar. Ide saya
muncul, aha bagaimana kalau saya berbincang dengan mereka dan pulang bareng
dengan mereka, biar saya merasa tak sendirian.
Tapi ingatan
saya masih jelas sangat, inget kata ummi hatihad-hati kepada orang yang baru
dikenal. Saya urungkan kembali niat itu, dan saya mencoba meyakinkan diri saya
bahwa saya baik-baik saja nantinya, juga taka nada sesuatu apapun yang akan
terjadi.
Waktu sudah
menunjukan pukul dua siang lewat empat puluh menit, dan itu pula artinya sudah
hampir satu jam saya berada di terminal ini. saya mulai berpikr mungkin
alangkah baiknya saya pulang sekararang, takut kemelaman sampai kamar. Dan
untuk apa juga saya lama-lama disini tanpa arah dan tujuan yang jelas, hanya
akan menambah sesak jakarta. Sudahmah penduduknya tiap tahun makin bertambah.
Mobil jurusan
banjar sudah nampak didepan mata, ah saya yakin saya akan pulang sekarang,
belum saya beranjak saya seperti melihat seseorang yang saya kenal, saya
yakinkan kembali mata ini, tidak salah lagi saya mengenalnya, ternyata saya
lupa dimana sekarng saya berada, saya langsung alari dan menyebut namanya “A
Zarrrr…..” betapa orang-orang yang ada disitu dibuat kaget oleh saya, saya tak
memperdulikan, tak peduli untuk kesekian kalinya, dan saya juga tidak kembali
menmegok ke belakang biarkanlah saya meninggalkan tanda tanya kepada mereka
yang melihat saya aneh.
“Zona!” A Zar
tak dapat menyembunyikan wajah keherannanya, A Zar tak sendirian, dia berlima,
yaitu Zam adik bungsunya, Awi kakaknya, Mang Den penjaga sekolah, dirinya dan
satu lagi saya tak mengenalnya. Zam ikut heran mendapati saya berada di
terminal nan jauh dari tempat tinggal.
“kamu ngapain
disini, dengan siapa,?” masih mimik wajah yang sama Zar bertanya kepada saya.
“sendiri, nanti
saya ceritanya, tapi apa boleh saya ikut pulang bersama?” dengan wajah
sumringah, saya merasa radar saya semakin kuat, ya radar saya lebih kuat dari
radar tadi sewaktu ditasik menemukan mamah.
“ya boleh” Zar
mempersilahkan saya berjalan terlebih dahulu. saya mengikuti langkah Awi Kakak
Zar, ternyata naik bis yang dari tadi saya pandangi, saya kira banyak orang,
tapi tidak, dan saya melihat orang sudah ada didalam saya tak mengenalnya
satupun. Saya baru ingat kenapa saya bisa bertemu dengan orang-orang sepondok
ini, mereka baru saja mengantar Kiayai dan anak serta kelompok umrohnya dari bandara.
Ah seandainya tadi saya ikut mengantar mamah ke bandara mungkin saya tidak akan
bertemu dengan mereka.
“Zona, cerita
kenapa kamu biusa ada disini” Zar menagih janji saya yang akan cerita saya ada
disni setelah anati didalam mobil. Pendek cerita Zar tahu alasan saya ada
disni. Dan sekarang saya yang heran kepada Zar dan yang lainnya, kenapa tidak
dengan mobil rombongan??
Saya dapat
tempat duduk dibelakang Zar, sendiri ya masa bersama mereka, kan mereka semua
laki-laki. Tapi Mang Den duduk disebelah saya, masih penasaran dengan saya.
Saya ceritakan lagi untuk kedua kalinya, setelah tadi saya cerita kepada Zar.
Ke Mang Den saya lebih bertanya kenapa Zar dan mang Den ada disini belum
pulang.
“rombongan yang
mengantar umroh kemarin juga langsung pulang, sementara kami tidak, Zar, Awi,
Zam menginap di hotel dan saya menginap di bandara, karena Kiayai dan rombongan
take off nya tadi pukul satu siang” begitu mang Den ,menjelaskan. Ouuhhh mulut
saya membentuk hurup O bulat, meski ga amat-amat bulat.
Mang Den berlalu
dari sampig saya, dia duduk dibagian depan sekali, sementara saya sendidri,
tadi mang Den semoat menyakan saya sudah amakan apa belum, saya jawab jujur
saja belum. Bukan berarti saya mau di traktir ko, tidak sama sekali, akrena
saya juga punya nuang, hanya saja saya males untuk membelinya.
Mobil melaju,
saya mengambil buku Angry Bird dan pulpen Angry Bird juga, saya catat apa yang
hari ini saya alami. Tulisannya sedikit berantakan, karena mobil juga
goyang-goyang. Dan begitulah critanya, “dan radarku menemukan jalan pulang”..
SEKIAN
Jalan
daerah Bandung, Rabu 17 Januari 2013
Satu
hari sebelum Jakarta banjir bandang…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar