Tahun
dimana saya akan merasa berat untuk melewatinya. Ini salah saya, saya yang
berfikir berat. Andai saja saya berfikir ini mudah, mungkin takan menjadi beban
yang berarti.
Ini
bukanlah untuk yang pertamakalinya kami berjumpa denganya, kami berjumpa enam
bulan yang silam, yaitu masa kami memasuki dunia kuliah yaitu OSPEK dan sampai memasuki
semester kedua masa perkuliahan.
Jurusan
yang sama, angkatan yang sama, bahkan kelas yang sama. Tak terbesit bahwa
jalannya akan seperti ini. Bahwa kami akan terlibat lebih jauh dalam sebuah
kegiatan kampus, hingga berkepanjangan.
Hanif
Mubarok namanya, saya begitu senang dengan nama itu, ah bukanya hanya sekedar
nama atau rupawannya, melainkan keperibadiannya yang lembut seperti angin,
teguh bagai karang.
Hanif yang
selalu baik dan sopan kepada siapapun membuatnya memiliki nilai lebih
dibandingkan dengan yang lain. Dan sangat nyaman jika berbagi cerita dengannya.
Paska ulang
tahun kampus dan kami yang terlibat didalamnya, membuat kami semakin dekat.
Hingga saya tak dapat banyak mengingat hal apa saja yang kami bahas via hp atau
bahkan lewat jejaring sosial. Untuk urusan face to face kami agak jarang.
Kemudian
semakin nyata dan jelas ada kebiasaan yang terus menerus mendekatkan kami,
lebih lanjut kepada hati.
Butuh waktu
untuk menyadarkan saya bahwa ada yang berbeda. Saat-saat berbagi itu berubah,
dari sekedar kebiasaan berubah menjadi suatu kebutuhan.
Ada
beberapa kegiatan yang membulat menjadi lingkaran memory yang sangat kuat.
Lagi-lagi saat kami diharuskan kembali terlibat dengan kegiatan kampus.
Sampai
suatu malam saya mulai gelisah dengan sikap yang dirasa sudah berubah, tentang
hati yang selalu berdegup, prilaku menjadi salah tingkah. Yang pada awalnya tak
ada yang berani mebuka mulut untuk sekedar menanyakan ada apa dengan hati ini?
dengan sikap ini? ya tak ada satupun diantara kami.
Hingga
akhirnya kami menemukan kata sepakat untuk bertanggung jawab atas hati dan
perasaan ini. kami mengambil keputusan untuk berkomitmen.
Sampai
dipenghujung kuliah wisuda Diploma, kami lulus bersamaan dengan nilai yang
memuaskan dan tentunya dia yang selalu lebih unggul dari saya.
Saya
memutuskan untuk melanjutkan kuliah guna mengejar gelar sarjana, dan banyak
alasan lain saya melanjutkan, selain saya masih memiliki waktu untuk belajar juga
belum ada plening mau apa kedepannya, jadi lebih baik saya lanjutkan dulu
kuliah. Semenatara Hanif, dia bimbang
untuk melanjutkan kuliah, saya tidak terlalu dalam menanyakan hal itu. Saya
takut ikut campur urusannya terlalu dalam. Meskipun pada akhirnya Hanif ikut
membuntut mendaftar kembali.
Perasaan
saya senang, bahagia, karena dia kuliah lagi dan saya bisa meminta bantuan
kepadanya untuk menjelaskan mata kuliah yang kurang mengerti, atau bertanya
mengenani tugas kuliah lainnya.
Selanjutnya
baru dua bulan perkuliahan dimuali, tiba-tiba dia harus berhenti karena
terbentur dana. Saya kecewa. Bagaimana mungkin di keluar belum pada waktunya.
Saya harus
logis ini juga bukan kampus negri, akhirnya dia benar-benar keluar dan saya
mulai merasa kehilangan, mulai merasa ada bangku kosong.
Tapi dia
meyakinkan takan ada yang hilag juga berubah, keadaan yang memaksa hidup untuk
realistis.
Hanif yang
tak pernah puts asa dia mulai berkarir didunia bisnis makanan. Dia bilang ingin
memperbaiki roda ekonomi. Kami sepakat akan mengikrarkan janji hidup bersama
setelah saya lulus kuliah.
Saya tidak
keberatan, karena toh saya juga masih banyak hal yang harus dipersiapakan, juga
ada mimpi yang harus saya pertanggungjawabkan yaitu cita-cita menjadi seorang
guru.
Waktu terus
berlalu dia semakin sibuk, pernah suatu waktu saya menemaninya ikut pelatihan.
Selama acara berlangsung saya terus bersyukur dengan setiap keadaan juga saya
semakin kagum diusianya yang masih muda dia sudah berbaur dengan para terua
yang pastinya sudah lebih lama terjun didunia bisnis makanan.
Menginjak
bulan berikutnya bisnisnya semakin maju, diapaun semakin sibuk. Bulan-bulan
selanjutnya bisnisnya semakin maju. Waktu sebelum dia membuka bisnis, dia ikut
test kerja di dinas. Dilemma muncul antara melanjutkan bisnis atau kerja di
dinas.
Dinas, ya
dia memilih untuk bekerja di dinas. Apapun keputusannya saya selalu
mendukungnya, saya hanya meyakini pekerjaan apapun tak masalah yang penting
halal.
Kesibukan
demi kesibukan dan komunikasi kami semakin jarang, bertempun enambulan satu
kali.
Saya mulai
merasa langkah ini mulai tak baik, tak ada bedanya dengan orang-orang luar yang
pacaran, mungkin bedanya kami tak sentuhan tangan. Kami masih punya
batasan. Ide saya muncul, langkah baru
untk memulai seustu yang baik, itu pikir saya. Ya ssebuah surat.
Surat saya
kirim lewat sms karena sebuah keadaan. Bahwa saya ingin sudahi semuanya, biar
kalau dia sdah siap dia datang kerumah dan meneui orangtua saya.
Karena buat
saya sekali jatuh hati sulit untuk bermain-main. Saya sudah berkomitmen untk
menunggunya sampai dia benar-benar datang kerumah.
Saya kira
dia akan mengggapinya baik, tapi berbalik dia kecewa, saya sudah susah payah
menjelaskan tapi dia tidak terima.
Surat saya
seperti tidak ada artinya lagi, semua berlalu begit saja. Hingga saya mlai
dihantui ketakutan dimana penantioan saya hanyalah percuma.
Saya tak
mendesaknya hanya menyakan kepastian bahwa dia benar-benar tidak mundur secara
yteratur. Dan dia dengan tegas mengatakan seklai melangkah dia takan mundur.
Itulah yang membuat saya semakin yakin menantinya.
Tibalah
saya dirundung kebosanan dengan hidup. Kuliah diakhir pekan dan sisa harinya
membuat saya jenuh tanpa aktifitas yang berarti.
Saya selalu
mengeluhkan keadaan say, karena kebosanan saya, atau tentang kliah yang suntuk.
Akhirnya saya mendapatkan aktivitas baru saya bekerja di sebah sekolah swatsa.
Dan saya memulai suasana baru, dia hanya berpesan spaya saya mencintai
pekerjaan saya.
Ini adalah
akhir segalanya, pertemuan saya dengan jejaring sosial penyebabnya, tidak!!
Tapi takdir Allah yang memberitahu saya segalanya. Selama ini saya mengecek hubungan
kekeluargaan saya dengan siapapun. Tapi tiba-tiba sahabat sekaligus yang sudah
berkeluarga menyinggung masalah itu.
Saya tak
habis pikir sampai saat ini dimana letak kesalahan saya. Dan saya menyayangkan
sikap seorang bernama Hanif yang tidak berani berterusterang bahwa dia
keberatan hubungan kekeluargaan, bahkan saya tak tahu siapa yang memulainya.
Mlai saat
itu saya putskan segalanya dari mlai kontak no hape sampai jejaring sosial. Dan
saya baru membuka mata bahwa SULIT BAGI
ORANG MENERIMA SAYA SECARA UTUH, BAIK DAN BURUKNYA
.
Dan saya
menyesal atas semua yang telah terjadi. Saya menyesal ada hati yang telah
tertaut kepada mahlukMU. Harusnya tak begini.
Dan kini
Allah memebri tahu banyak hal atas kejadian-kejadian yang telah terlewat. Sakit
iya, wajar apalagi saya tahu dia status keluargabukan hanya dengan saya
melinkan dengan teman saya satu kampus.
Maafkan
saya ya Rabb, saya tidak akan mengulanginya lagi permainan hati ini.. cukup ini
yang pertama dan terahir…….
Saya hanya
akan menerima laki-laki yang datang kerumah untuk menyatakan qobiltu..
Bukankah
semua indah pada waktunya…..
SEMUA
TERBANG BERSAMA ANGIN…
By: Zona
Red

Tidak ada komentar:
Posting Komentar