Minggu, 19 Mei 2013

ANGIN YANG BERLALU


Tahun dimana saya akan merasa berat untuk melewatinya. Ini salah saya, saya yang berfikir berat. Andai saja saya berfikir ini mudah, mungkin takan menjadi beban yang berarti.

Ini bukanlah untuk yang pertamakalinya kami berjumpa denganya, kami berjumpa enam bulan yang silam, yaitu masa kami memasuki dunia kuliah yaitu OSPEK dan sampai memasuki semester kedua masa perkuliahan.

Jurusan yang sama, angkatan yang sama, bahkan kelas yang sama. Tak terbesit bahwa jalannya akan seperti ini. Bahwa kami akan terlibat lebih jauh dalam sebuah kegiatan kampus, hingga berkepanjangan.

Hanif Mubarok namanya, saya begitu senang dengan nama itu, ah bukanya hanya sekedar nama atau rupawannya, melainkan keperibadiannya yang lembut seperti angin, teguh bagai karang.

Hanif yang selalu baik dan sopan kepada siapapun membuatnya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan yang lain. Dan sangat nyaman jika berbagi cerita dengannya.

Paska ulang tahun kampus dan kami yang terlibat didalamnya, membuat kami semakin dekat. Hingga saya tak dapat banyak mengingat hal apa saja yang kami bahas via hp atau bahkan lewat jejaring sosial. Untuk urusan face to face kami agak jarang.

Kemudian semakin nyata dan jelas ada kebiasaan yang terus menerus mendekatkan kami, lebih lanjut kepada hati.

Butuh waktu untuk menyadarkan saya bahwa ada yang berbeda. Saat-saat berbagi itu berubah, dari sekedar kebiasaan berubah menjadi suatu kebutuhan.

Ada beberapa kegiatan yang membulat menjadi lingkaran memory yang sangat kuat. Lagi-lagi saat kami diharuskan kembali terlibat dengan kegiatan kampus.

Sampai suatu malam saya mulai gelisah dengan sikap yang dirasa sudah berubah, tentang hati yang selalu berdegup, prilaku menjadi salah tingkah. Yang pada awalnya tak ada yang berani mebuka mulut untuk sekedar menanyakan ada apa dengan hati ini? dengan sikap ini? ya tak ada satupun diantara kami.

Hingga akhirnya kami menemukan kata sepakat untuk bertanggung jawab atas hati dan perasaan ini. kami mengambil keputusan untuk berkomitmen.

Sampai dipenghujung kuliah wisuda Diploma, kami lulus bersamaan dengan nilai yang memuaskan dan tentunya dia yang selalu lebih unggul dari saya.

Saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah guna mengejar gelar sarjana, dan banyak alasan lain saya melanjutkan, selain saya masih memiliki waktu untuk belajar juga belum ada plening mau apa kedepannya, jadi lebih baik saya lanjutkan dulu kuliah. Semenatara  Hanif, dia bimbang untuk melanjutkan kuliah, saya tidak terlalu dalam menanyakan hal itu. Saya takut ikut campur urusannya terlalu dalam. Meskipun pada akhirnya Hanif ikut membuntut mendaftar kembali.

Perasaan saya senang, bahagia, karena dia kuliah lagi dan saya bisa meminta bantuan kepadanya untuk menjelaskan mata kuliah yang kurang mengerti, atau bertanya mengenani tugas kuliah lainnya.

Selanjutnya baru dua bulan perkuliahan dimuali, tiba-tiba dia harus berhenti karena terbentur dana. Saya kecewa. Bagaimana mungkin di keluar belum pada waktunya.

Saya harus logis ini juga bukan kampus negri, akhirnya dia benar-benar keluar dan saya mulai merasa kehilangan, mulai merasa ada bangku kosong.

Tapi dia meyakinkan takan ada yang hilag juga berubah, keadaan yang memaksa hidup untuk realistis.

Hanif yang tak pernah puts asa dia mulai berkarir didunia bisnis makanan. Dia bilang ingin memperbaiki roda ekonomi. Kami sepakat akan mengikrarkan janji hidup bersama setelah saya lulus kuliah.

Saya tidak keberatan, karena toh saya juga masih banyak hal yang harus dipersiapakan, juga ada mimpi yang harus saya pertanggungjawabkan yaitu cita-cita menjadi seorang guru.

Waktu terus berlalu dia semakin sibuk, pernah suatu waktu saya menemaninya ikut pelatihan. Selama acara berlangsung saya terus bersyukur dengan setiap keadaan juga saya semakin kagum diusianya yang masih muda dia sudah berbaur dengan para terua yang pastinya sudah lebih lama terjun didunia bisnis makanan.

Menginjak bulan berikutnya bisnisnya semakin maju, diapaun semakin sibuk. Bulan-bulan selanjutnya bisnisnya semakin maju. Waktu sebelum dia membuka bisnis, dia ikut test kerja di dinas. Dilemma muncul antara melanjutkan bisnis atau kerja di dinas.

Dinas, ya dia memilih untuk bekerja di dinas. Apapun keputusannya saya selalu mendukungnya, saya hanya meyakini pekerjaan apapun tak masalah yang penting halal.

Kesibukan demi kesibukan dan komunikasi kami semakin jarang, bertempun enambulan satu kali.

Saya mulai merasa langkah ini mulai tak baik, tak ada bedanya dengan orang-orang luar yang pacaran, mungkin bedanya kami tak sentuhan tangan. Kami masih punya batasan.  Ide saya muncul, langkah baru untk memulai seustu yang baik, itu pikir saya. Ya ssebuah surat.

Surat saya kirim lewat sms karena sebuah keadaan. Bahwa saya ingin sudahi semuanya, biar kalau dia sdah siap dia datang kerumah dan meneui orangtua saya.

Karena buat saya sekali jatuh hati sulit untuk bermain-main. Saya sudah berkomitmen untk menunggunya sampai dia benar-benar datang kerumah.

Saya kira dia akan mengggapinya baik, tapi berbalik dia kecewa, saya sudah susah payah menjelaskan tapi dia tidak terima.

Surat saya seperti tidak ada artinya lagi, semua berlalu begit saja. Hingga saya mlai dihantui ketakutan dimana penantioan saya hanyalah percuma.

Saya tak mendesaknya hanya menyakan kepastian bahwa dia benar-benar tidak mundur secara yteratur. Dan dia dengan tegas mengatakan seklai melangkah dia takan mundur. Itulah yang membuat saya semakin yakin menantinya.

Tibalah saya dirundung kebosanan dengan hidup. Kuliah diakhir pekan dan sisa harinya membuat saya jenuh tanpa aktifitas yang berarti.

Saya selalu mengeluhkan keadaan say, karena kebosanan saya, atau tentang kliah yang suntuk. Akhirnya saya mendapatkan aktivitas baru saya bekerja di sebah sekolah swatsa. Dan saya memulai suasana baru, dia hanya berpesan spaya saya mencintai pekerjaan saya.

Ini adalah akhir segalanya, pertemuan saya dengan jejaring sosial penyebabnya, tidak!! Tapi takdir Allah yang memberitahu saya segalanya. Selama ini saya mengecek hubungan kekeluargaan saya dengan siapapun. Tapi tiba-tiba sahabat sekaligus yang sudah berkeluarga menyinggung masalah itu.

Saya tak habis pikir sampai saat ini dimana letak kesalahan saya. Dan saya menyayangkan sikap seorang bernama Hanif yang tidak berani berterusterang bahwa dia keberatan hubungan kekeluargaan, bahkan saya tak tahu siapa yang memulainya.

Mlai saat itu saya putskan segalanya dari mlai kontak no hape sampai jejaring sosial. Dan saya baru membuka mata bahwa SULIT BAGI ORANG MENERIMA SAYA SECARA UTUH, BAIK DAN BURUKNYA
.
Dan saya menyesal atas semua yang telah terjadi. Saya menyesal ada hati yang telah tertaut kepada mahlukMU. Harusnya tak begini.

Dan kini Allah memebri tahu banyak hal atas kejadian-kejadian yang telah terlewat. Sakit iya, wajar apalagi saya tahu dia status keluargabukan hanya dengan saya melinkan dengan teman saya satu kampus.

Maafkan saya ya Rabb, saya tidak akan mengulanginya lagi permainan hati ini.. cukup ini yang pertama dan terahir…….

Saya hanya akan menerima laki-laki yang datang kerumah untuk menyatakan qobiltu..

Bukankah semua indah pada waktunya…..

SEMUA TERBANG BERSAMA ANGIN…

By: Zona Red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar