Kamis, 18 Juni 2015

AKHIR PEKAN DI PRAU







6-7 juni 2015
Pertama-tama terimakasih kepada Allah SWT yang memberikan kami semua nikmat, keselamatan, hingga kami bisa melaksanakn perjalan, dan samapi dnegan selamat. Alhamdulilah J.

Akirnya aku punya waktu dan mood yang bagus untuk menuliskan perjalananku…Perjalananku kali ini ke “prau-dieng-wonosobo” pendakian kedua setelah perndakianku nke “papandayan-garut”. Semua rencana ini dimulai dari perjalanan pulang dari papandayan, dan baru terealisasikan setelah enam bulan lamanya menunggu.

Karena kesibukkan teman-teman, maka kami memilih waktu yang benar-benar bisa untuk kita berkumpul kembali, meskipun tetap masih saja ada yang tidak bisa hadir. Dua absen, tapi sebagai penggantinya hadir empat teman baru. Aku sendir sangat bahagia, setiap kali perjalanan selalu menambah teman.

Oke setelah rapat dua kali di kawasan alun-alun ciamis, kami sepakat berangkat tanggal 6 juni dengan menggunakan mobil sewaan, supaya lebih aman dan nayaman, ga ribet naik turun mobil dengan membawa beban. Kami melakukan perjalanan ini hamper sama dengan perjalan ke papandayan. Menggunakan mobil sewaan.

Sabtu, 6 juni 2015.  pukul 06:00
Aku sudah resah tak karuan karena teman belum juga dating menjemput, padahal perjanjian berangkat pukul 05:00. Yeeah karena adalasan yang sangat penting dan akhirnya kita bernagkat pukul 06:30. Dengan satu mobil xenia dengan muatan sepuluh orang dan semua barang orang. Penuhlah mobil kecil itu. Tapi kami tetap merasakan sangat bahagia…

Pukul  10:00 kami berhenti di pom bensin untuk istirahat sejenak, kami memanfaatkan waktu dan tempat itu dengan sangat berharga, stelah satu jam istirahat, perjalanan kami lanjutkan kembali.

Selama did lam mobil kami bercanda, tertawa, tidur, makan. Dan itu membuatku bahagia, lebih bahagia daripada sekedar duduk bersantai dan bermalasan di dalam kamar.
Kami hamper sampai di dieng, tapi macet yang lumayan panjang dan lama, membuat kami menunggu didalam mobil, udara dingin sudah sangat terasa merasuk tubuhku. Kemacetan ini dikarena ada festival, yang entah seperti apa festival disini, karena aku hanya menyaksikan ribuan manusia yang berdesakan.

Saat itu ma ihat membuka jendela mencari udara segar, kemudian beberapa motor melintas lengkap layaknya orang yang akan mendaki, itu bisa dipastikan tujuan mereka sama dengan kami, yaitu prau.
“sampai ketemu diatas ya”
Tiba-tiba ma ihat berucap kekenaknya, sontak semua orang yang ada dimobil tertawa. “mae aku merasa malu” kami semua tertawa kembali. Itu salah satu kekonyolan selama perjalanan didalam mobil.
Tepat pukul 15:00 kita sampai, turun  dari mobil kami langsung mencari mushola dan kamar mandi air disni benar-benar dingin berrrrrrrrrr….
Pukul 16:00 perjalan dimulai… subhanalloh keindahan dieng benar-benar nyata, selama ini aku hanya melihatnya didalam gambar. Dan keindahan ini aku tidak mampu menjabarkannya dengan kata-kata. Subhanalloh… allohu akbar..
Pos pertma terlewati,, dan kami sekarang memasuki hutan pinus, kami berpikir sama, seperti melihat tempat ini seperti di dalam film twilight. Evi mulai muali teriak “Jacob”. Sepajang melewati hutan ini kami saling memanggil dengan para pemeran film twilight, Jacob, Edward, bella, alice. Candaan demi candaan lumayan membuat kami sedikit lupa tentang lelahnya perjalanan.
Kata a delon selaku guide kami katanya perjalanan sampai puncak dua jam setengah kalau cepat, diperkirakan magrib katanya. Ternyata kami lambat dan magrib kami masih dihutan. Kami segera berhenti untuk mengambil senter. Aku mengeluh karena lelah, beban didalam tasku benar-benar berat air dua liter dan perlengkapan lainnya membuatku lelah sekali, untunglah a omen, mau membawakan satu liter airku, itu membuatku bhagaia, beban terkurangi J.
Hari mulai gelap, kami melihat kesamping dan itu indah banget, matahari terbenam, awan, semuanya indah, sayang tak seorangpun yang mengabdikannya leat kamera. Aku sendiri lupa akan hal itu. Yang sementara yang lain entahlah.. mungkin sama denganku. Dan keindahan itu aku mengabadikannya hanya dengan mata dan hatiku. Subhanalloh.

Kami melanjutkan perjalanan. Tibalah ditempat yang lumayan datar, cukup untuk kita semua istirahat barang sejenak.
Aku memposisiskan tubuh terlentang, indah seklai bintang diatas, sepertinya kami semua melakukan hal yang sama, bahkan a omen melkaukan adegan seperti di film-film romantic. “yang aku melihat bintang, indah sekali. Meski kita tidak ditemat yang sama kamu juga melihat bintang yang sama kan yang”. Aku iseng menjawabnya. “tidak yang, aku disini tidak melihat bintang, aku disini melihat lampou neon”. Dan kamipun tertawa, itu cara kamai melepas lelah. Karena malam mulai merangkak, kami diharuskan cepat-cepat untuk melanjutkan perjalanan, takutnya samapi puncak malam sekali.

Dari temapt ini kami melihat bukit bintang, dibawah bintang-bintang dari kota, dan bintang yang ada dilangit. Pemandangan yang indah. Sayang pemandangan itu tidak berlangsung lama. Aku melihat jam tangan, pukul 19:00. Sayang seklai kabut mulai turun. Angin kali ini mulai berhembus lebih keras. Lebih dingin aku merasakannya pula.

Sekarang kami sudah mulai ke bukit teletubies, sebenranya dari tadi the ecy sudah mulai lelah juga a dian, buatku a dian wajar, karena ini adalah kali pertama dia muncak, dan dia pula yang mengemudikan mobil, pasti lelahnya double.

Karena khawtir, a delon memutuskan kami dibagi dua kelompok, satu kelompok terkebih dahulu bersama a deolon yang ikut kelompok itu, evi, the alis, nunik, dan neneng. Sementara aku ikut kelompok a omen, a dian, the ecy, dan the ihat. 

Kelompok kami duduk sementara, karena tee cy lelah, sepuluh menit kemudian aku menyarankan suoaya kita jalan saja jangan lama istirhat, toh cuacanya lumayan buruk idngin seklai, kabut tebal sungguh sangat mengerikan khususnya untukkku. Dingin sekali.
A omen setuju, kami berjalan, tapi kami menemukan belokkan, ada yang ke kanan dan ada yang ke kiri. Tak lama rombongan lain lewat mereka mengambil arah kiri, kami mengikutinya. Karena kami lamban kami kehilangan mereka, akhirnya kami istirhat kembali.
Toh kalaupun kita tidak jalanpun kami akan dijemout nanti oleh a delon, begitu awal perjanjian. Tapi karena cuaca dingin sekali, kami harus tetap gerak. Aku ingat pesan a delon “angin jangan dilawan, kalau dilawan nantinya akan terasa semakin dingin”.
Dan yang paling mengingat pesan itu adalah the ihat. Ditengah penantian a delon tertanya a dian kedinginan, the ecy, dan aku. Sementara yang masih kuat tinggal a omen dan the ihat.
Aku merasa seluruh tubuh kaku, gemerta gigi,,, ah sangat dingin. A omen mencari tempat yang aman, matras digelar, kami semua mulai panic. A omen menyarankanku untuk membuka tas, dan memakai sb. Sementara pikiranku tak karuan, aku malah ingat evi dan rombongan a delon. Aku tau evi dia tidak begitu kuat dengan cuaca dingin, tapi sb justru ada di tasku.
Apalah dayaku aku memakai sb, aku dipeluk erat oleh the ihat, tapi tetap rasanya dingin sekali, titambah angin behembus semakin kencang.
A omen sibuk membuka tas, megambil kompr dan gas, menyalakannya, untuk mencari sumber hangat, sayang nesting ada dikelompok a delon. Aku tetap dingin, teman-teman mencoba menenagkan dan menghangatkanku.
Para pendaki lain lewat, melihat kami terkapar mereka hanya bilang suoaya kami cepat ke tenda jangan sampai kena hipotermia. Justru saat itu aku tengah hipo. Pikiranku makin kacau, antara pasrah dan ingin berjuang.
Satu jam kedian terdengar teriakan a delon memanggil aomen, aku merasa aku akan segera terselamatkan dari rasa dingin ini. A delon mengabsen kami, kedian bertanya meli mana? Saat itu aku terbungkus sb, dia langsung membuka sb ku.
“jangan panic” katanya sembari tangan sibuk membenahi semua brang-barang kami. Tasku dibawanya, kemudian kami berjalan, jalanku terseok-seok, bahakan tersandung, aku berjalan sambil memakai sb. Aku merasa ada cairan dari hidung, karena gelap aku tak tau apa itu, apa cairan karena dingin, atau itu mimisan. Aku tak tahu, gelap.
Sepanjang jalan adelon terus menerus membalikkan tubuhnya, meastikan kami berjalan baik-baik saja, sembari mengatakan hal yang sama “jangan melaan dingin”. Akupun mulai merasa baik. A delon sebenarnya diperjalanan menjemputku kelompokku dia tersesat, karena kabut tebal, itu;ah mengapa dia sedikit lama.
Aku tak dapat membayangkan jika itu aku. Akhirnya samilah aku ditenda, hanya ada satu, didalam sudah ada teman yang lain, aku cepat dusruh masuk dan menghangatkan diri. Sementara teman yang lain megambilkanku air hangat, itu sangat membantu.
Selanjutnya a omen dan a delon kembali medorikan tenda yang sempet tertunda karena menjemput kami. Tiga tenda telah jadi, yang lain masak makaan n=dan minuman, aku meilih mie cup, stelah aku makan aku benar-benar tidur.
Aku terbangun sudah pukul 05:00. aku keluar kabut masih tebal, dan woow semalam aku masih ingat hanya tenda kami yang berdiri, tapi ini sudah banyak, berarti bukan hanya kami yang melakukan pendakian malam, tapi merekapun.
Aku evi, the ihat keluar api kami tidak lama, kalah dengan rasa dingin, kembali ke tenda. Sementara yang lain masih tidur. Itu karena mereka malam tidak tidur. Aku faham itu.
Pagi pukul 07:00 matahari belum juga muncul, gagallah untuk melihat matahari terbit L. Bahkan sampai pukul 10:00. Kabut masih menutupinya. Kata a delon jangan terlalu siang turun harus memperhitungkan waktu, kalau sempet kami akan mampir ke telaga warna.
Oh iya, di tas kami juga bertemu dnegn beberapa pendaki, tetangga tenda hee, danrata-rata mereka laki-laki, berbeda dengan kami yang mayoritas wanita, dengan jumlah kelompok yang banyak hee.
Kami turun pukul 10:00 samapi di bawah pukul 13:30. Pukul 14:00 kami pulanh, telaga warba cancel, waktu tidak memungkinkan. Didalam mobil aku mengenang kejadian semalam yang sangat menakutkan antara hidup dan mat karena dingin.
Alhamdulillah disetiap perjaloanan aku mendapat perjalanan. Dari the ihat dia kuat, bahkan dialah yang menjai sandaran, evi yang aku cemaskan, justru dia sangat kuat dariku, terimaksih evi kau membunuh rasa khawatirku, a omen siap dalam setiap kedaan, a delon super duper kuatnya, dan mampu bersabar dengan kami, the ecy, mama yang mebawa perbekalan kuat.  Neneng, penghibur yang membuat kami tertawa. A dian , nunik, the alis, semuanya, kami saling menguatkan. Terimaksih smeuanya.
Bahakan ucapan terimakasihpun tak cukup untuk membalas smua kebaikkan kalian J
Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar