Minggu, 01 Februari 2015

^MALAIKAT^

Hari ini aku merasa bukan menjadi diriku sendiri, aku merasa rasa kesendirian, rasa kesepian menjadi pribadi yang baru, dan aku takut aku memiliki penyakit baru D.I.D (penyakit kepribadian ganda).  Dan aku tau nama penyait baru itu dari sebuah drama yang aku tonton akhir-akhir ini.

Sesaat aku sedang sendirian ditempat kerja, tiba-tiba air mataku menetes, aku merasakan kepediahan yang mendalam setelah beberapa peristiwa masa lalu muncul kembali seperti kepingan yang ingin disatukan dengan kenyataan saat ini.

Tak lama aku berperang dengan hati sepiku, tiba-tiba rekan kerjaku datang, raut wajahkupun tiba-tiba berubah kembali menjadi biasa, untuk menghilangkan jejak sepiku, aku memutarkan beberapa lagu, dan akupun mengikuti alunan musik, serta ikut menyanyi.

Hasilnyapun tidak buruk, kawanku itu bahkan mengatakan bahwa aku sedang dalam keadaan baik, dan nampak riang sekali hari ini. Terbalik, dalam hatiku bertanya-tanya, bagaimana bisa, padahal hatiku terus menerus menangis.

Selepas pulang kerja, aku sudah punya janji, agenda kajian keislaman mingguan. Dan beberapa waktu yang lalu aku mengiyakan, bahwa aku akan hadir. Tapi hari inni , waktu yang sudah didepan mata, justru aku tak ingin pergi, bahkan hp ku sengaja aku matikan, agar tak ada seorangpun yang bisa menghubungiku.
Keputusan tidak begitu bulat, sesampainya dikamar, aku tidak istirahat, aku beranjak ke kamar mandi, dan cuci muka, seolah-olah aku akan berangkat. Kembali ke kamar, melirik jam , sudah lewat dari jam dua siang, dan pasti acaranya sudah dimulai, hatiku kembali teguh, aku akan berangkat saja, ganti pakaian, dan berangkat.

Beranda Mesid Agung aku melihat ada dua wanita berkerudung lebar, aku menghampriri mereka, yaitu sang guru dan salah sahabatku, mereka menyambutku hangat. Tak lama disusul satu sahabatku, biasanya kami melingkar ber  enam, tapi dua orang sedang berhalangan, tidak bisa hadir.

Aacara dimulai, isi materinya seperti jawaban dari pertanyaanku yang tak pernah aku lontarkan. Dari dakwah ini aku sepertinya ingin kabur, karena terkadang apa yang aku sampaikan kepada anak-anak akupun berat untuk melkasanaknnya. Itulah alasanku untuk menyerahkan anak-anak kepada sahabatku. Tapi isi materi yang disampaikan oleh sang guru benar-benar membuatku kembali teguh dan kuat untuk berdakwah kembali. Sampai akhirnya aku dan sahabatku menemukan jalan yang begitu terang sehingga aku bisa kembali berjalan. Terimkasih teteh :).

Acara sebentar lagi akan berahir, tapi adzan ashar berkumandang, dan kami sepakat untuk menghentikan kegiatan, kami melaksanakan dulu sholat ashar. Selesai shalat aku entah kenapa menteskan air mata, rasanya hatiku sakit, tapi entah apa alasannya. Jikapun ada yang bertanya kenpa aku menangis, maka aku takan mampu untuk menjelaskannya. Yang tahu hanya aku.

Aku kembali kembali melingkar. Tak lama acara selesai, guruku pamit untuk pulang, guruku sempat bertanya.
"hari ini kamu sedikit berbeda, kamu baik-baik saja?"
"ya, the saya baik-baik saja, jangan kgawatir :)"
Selepas guru pergi kami merapatkan duduk, mencari kehangatan diselasela cuaca yang dingin karena hujan tak kunjung reda.
"kita pindah yu ke dalam, disana ada karpet lumayan daripada disini dudduk tanpa alas apa-apa dingin" aku mengajak dua sahabtku itu. Kami beranjak pindah kedalam.
Aku langsung meneggelamkan wajah, agar tak ada yang  melihat mataku yang basah karena airmata yang kutahan sedari tadi.

Menyadari aku menangis dua sahabatku mengelusku lembut, mereka hanya mengatakan suapaya aku mengais sebanyak yang aku mau, jangan menahan air mata yang hendak keluar.
Aku masih sadar aku ada didalam mesjid, akupun tidak mengeraskan suara tangisanku, meskipun aku menginginkan untuk berteriak.
"kenapa mba.." suara itu sedikit mengejutkanku…
"eh bunda, maaf kita menggangu" sahabku meminta maaf kepada suara itu. Aku sedikit menganggat wajah dan memastikan suara itu, ternyata seorang ibu memakai kerudung hitam, dan baju merah, rok hitam.

Tanganku kembali menutupi mata, lagi-lagi aku tak mau ada yang melihatku sedang menangis.
"ouh tak apa, mba-mba ini dari mana?"
"kami disini saja, baru selesai kegiatan.."
"mba-mba ini masih kuliah?"
"ngga bun, kami paska kampus semua"
"wah jurusan apa?"
"saya jurusan kebidanan, yang itu jurusan ekonomi, dan yang ini jurusan komputer"
Tanganku,  diantara jari kelingking dan jari manis, diketuk-ketuk sedikit cepat. Aku membuka sedikit  mataku, kulihat tangan yang sudah tua pasti ini tangan milik ibu tadi.
"kasian mba ini, tolong mba ini diketuk-ketuk ya diantara jari kelingkig sama jari manisnya, untuk sedikit menengkan. Terus saja begitu ya mba".
Ibu itu terus berbicara. Tangisku mulai reda, aku malu sebenarnya. Aku bangkit membetulakan posisi duduk .

Ibu menerngkan banyak hal, seolah-olah dia tahu apa yang sedang aku hadapi, dan dia mencoba memberikan jawabannya tanpa aku melontarkan sebuah pertanyaan untuknya.
"ada orang yang kalu mengingat hal-hal yang ingin dilupakannya itu dia akan sangat sakit, itu penyakit ion negatif dalam dirinya sudah stadium tinggi, itu sangat berbahaya" aku mengiyakan apa yang sedang ditengkan ibu.

"separah itukah penyakit jiwaku, sampai-sampai ketika aku dalam kedaan sehatpun akan akan tiba-tiba sakit dan tak bisa melakukan apa-apa?" hatiku terus berbicara dan bertanya-tanya kenapa? Dan apa yang hendak ku perbuat???.
"mereka yang yang tau akan kondisinya, mereka akan melakukan trapi, tapi bukan rukiyah, ion negatifnya akan dikeluarkan, bahkan ada yang samapai muntah" lanjut si ibu.

Lagi-lagi aku mengiyakan, padahal sebelumnya aku belkum pernah tahu akan hal itu, tapi aku selalu berusaha mengendalikan diriku, dan jika itu sudah terlanjur, aku akan muntah-muntah tanpa sebab.
Ya Allah, begitu beratkah penderitaanku, begitu kelamkah masalaluku hingga jika ada hal yang mengingatkan itu kepadaku, aku seperti akan mati. Dan setengah mati juga aku berusaha untuk bangkit kembali.

Menerangkan banyak hal ibu itu, dan ternyata ibu itu seorang guru juga dia aktif di sebuah organisai penyembuhan itu.
"maaf ya, ibu jadi reflek berbicara melihat mba tadi menangis, yang pada inti penyembuhan ini adalah…..
  1. Pasrahkan, ikhlaskan kepada Allah.
  2. Memaafkan siapapun orang yang menyakiti kita
  3. Lebih mendekatkan diri kepada allah
  4. Lebih banyak bersedekah, dan ternyata sedekah itu bukanlah 2,5% tapi 20% dari penghasilan kita.
"sekali lagi maaf ya mba-mba jadi malah berbicara begini, ini juga sebenarnya mengingatkan diri saya" ibu itu pamit kepada kita.
"ibu harusnya saya yang mengucapkan maaf, karena ibu jad terganggu, dan terimakasih atas ilmu yang ibu berikan…" akhirnya aku membuka mulut setelah beberapa saat membisu.

Ibu itu berlalu, dan teman-temanku tetap mengelusku dengan hangatnya, meskipun aku tak ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka bisa mengerti, bahwa aku sedang terluka.
"tau ga the? Curhat yang paling aman itu ternyata curhat kepada Allah, dia itu ga ember kaya manusia hee…"
Aku tersenyum, hatiku  merasa lebih ringan. Hari sudah mulai sore, jam menunjukan pukul setengah enam sore, kami bergegas keluar, hujan reda, dan cukup cerah.
"wah hujannya reda, alhamdulillah mari kita pulang" ajakku kepada teman-teman.
"iya, hujannya sudah reda, karena teteh udah ga nangis lagi :)"

Untuk hari indah diawal bulan itu, aku seperti menebukan banyak malaikat yang menolong… dan aku seperti menemukan mimpiku yang hilang, hidup bahagia dimasa depan, memiliki keluarga, suami anak. Terimakasih sahabat, terimakasih guru, terimakasih ibu.
Terimakasih untk semuanya Ya Allah, Engkau begitu sayang kepada hambaMU.
Buatlah aku seperti apa yang Engkau mau, yaitu dekat denganku, mencintaimu, dan hidup dijalanMU yang benar…
Amien… :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar